Melihat Dampak Asap Karhutla RI pada Okupansi Sektor Perhotelan di Malaysia

Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sudah mencapai beberapa bagian negara Malaysia dan Singapura. Sektor perhotelan di Malaysia turut merasakan dampaknya.
Cerita terkait dampak karhutla diceritakan oleh Derrick Felix yang merupakan General Manager Hotel Courtyard by Marriott Kuala Lumpur South. Ia menjelaskan, kabut asap atau dikenal di Malaysia sebagai ‘jerebu’ yang sedang melanda Malaysia utamanya di sekitar Kuala Lumpur berdampak pada okupansi hotelnya.
“Memang ada dampak. Jika ditanya seberapa besar, perkiraan saya sekitar (okupansi menjadi) 20 sampai 30 persen. Angka itu bukan kecil. Misalnya, jika tingkat okupansi seharusnya 80 persen lalu turun 30 persen,” kata Derrick saat ditemui di Hotel Courtyard by Marriott Kuala Lumpur South, Malaysia pada Rabu (14/10).
Angka tersebut didasarkan pada asumsi jumlah tamu yang sudah melakukan pemesanan sehingga tak ada pilihan untuk harus tetap datang ke hotel. Dengan kondisi tersebut, ia menjelaskan sebagai pengelola hotel turut melakukan langkah-langkah untuk melindungi para tamunya.
Salah satu cara yang dilakukan oleh Derrick adalah memberi imbauan kepada para tamu yang menginap untuk membatasi aktivitas di luar karena kondisi udara sudah mencapai tingkat yang tidak sehat.
“Karena itu, kami harus sangat berhati-hati dalam menangani tamu hotel. Dampak kabut asap membuat kami perlu mengambil langkah pencegahan yang lebih serius, terutama untuk menjaga kesehatan dan keselamatan pelanggan dibandingkan aktivitas di luar ruangan,” ujarnya.
Berdasarkan data dari IQAir, indeks AQI di Kuala Lumpur sudah mencapai 245 atau masuk pada kategori sangat tidak sehat. Angka tersebut didasarkan pada indeks per Rabu (14/10) pukul 17.00 MYT.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir merespons komunikasi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dengan Presiden Prabowo Subianto terkait kabut asap akibat karhutla di Indonesia.
Arrmanatha mengatakan pemerintah Indonesia sudah berkomunikasi dengan Malaysia mengenai langkah-langkah penanganan yang dilakukan.
"Ya, kita sudah berkomunikasi. Dari saya sudah berbicara juga dengan Menteri Luar Negeri Malaysia," kata Arrmanatha di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (10/10).
Arrmanatha menjelaskan lalu kepada Malaysia sejumlah upaya untuk menangani karhutla.
"Dan juga kita sudah jelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia, seperti kita sudah menerjunkan lebih dari 60.000 personel," ujarnya.
Selain personel, pemerintah juga mengerahkan puluhan helikopter dan pesawat untuk melakukan pemadaman dari udara.
"Kita telah menerjunkan juga sekitar 48 helikopter dan pesawat untuk melakukan water bombing," kata Arrmanatha.
Ia mengakui kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla saat ini.
"Dan juga melihat cuaca, memang ini merupakan tantangan karena udaranya yang saat ini tidak berada di pihak kita," ujarnya.
