Melihat Produksi Pelumas Pertamina di Unit Jakarta, Diekspor ke Jepang-Afrika

PT Pertamina Lubricants, anak perusahaan Pertamina Patra Niaga, memproduksi pelumas yang tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, namun juga diekspor hingga ke 16 negara.
Corporate Secretary Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi, mengatakan produk pelumas milik Pertamina memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan merek lain, yakni Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi karena seluruhnya diproduksi di dalam negeri.
Pertamina Lubricants saat ini memiliki tiga unit produksi, yakni di Jakarta, Gresik, dan Cilacap. Unit Produksi Jakarta merupakan fasilitas pengolahan pelumas dengan kapasitas terbesar, yakni 270.000 kiloliter (KL) per tahun.
"Pasar yang menjadi sasaran pelumas Pertamina tidak hanya domestik, tapi kita juga sudah merambah ke pasar mancanegara. Kita sudah merambah mencapai ke 16 negara untuk saat ini," ungkap Rika saat Media Visit, Rabu (12/8).
Sementara itu, Manager Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants, Dody Arief Aditya, mengatakan volume ekspor perusahaan belum sebesar pasar domestik. Pasar ekspor pelumas Pertamina menjangkau 16 negara di Asia, Afrika, dan Australia.
Produk yang diekspor mencakup segmen automotive (Pertamina Fastron dan Pertamina Enduro) serta industrial applications, termasuk hydraulic, transmission, marine, dan produk lainnya.
Jika diurutkan berdasarkan tahun dimulainya ekspor, Pertamina mengekspor produk pelumas ke Korea Selatan, Afrika Selatan, Bangladesh, China, Myanmar, Vietnam, Thailand, Nigeria, Yaman, Timor Timur, Malaysia, Singapura, Australia, Jepang, Filipina, Tanzania.
Selain itu, Pertamina Lubricants juga memiliki 1 fasilitas produksi di Thailand yang melayani pasokan pelumas di wilayah Indochina. Perusahaan juga memiliki kantor cabang di Sydney, Australia.
"Jadi di Ayutthaya kurang lebih 3 jam dari Bangkok itu kita bukan bikin pabrik baru sih sebenarnya, tapi kita akuisisi di tahun 2015 dari pabrik lokal yang ada di Thailand. Kapasitasnya mungkin paling kecil saat ini yaitu 60.000 KL per tahun," ungkap Dody.
Dody mengatakan Unit Produksi Jakarta sudah dibangun sejak tahun 1957, kemudian selanjutnya terdapat langkah modernisasi secara bertahap.
Dia menuturkan pabrik tersebut memproduksi beberapa produk, yakni lubricant atau pelumas setara 270.000 KL per tahun, grease atau pelumas padat 8.000 metrik ton per tahun, VII aditif 14.000 KL per tahun, solvent based petrochemical 500 KL per tahun, dan coolant 2.500 KL per tahun.
Sementara bahan baku yang dipasok untuk unit produksi ini yakni minyak dasar (base oil) sebanyak 60-70 persen dari kilang milik Pertamina, sementara zat aditif mayoritas diimpor meskipun ada juga yang diproduksi sendiri oleh perusahaan.
"Kita masih ada base oil yang kita impor sekitar 10 sampai 25 persen itu kita masih impor. Kemudian additive itu ada dua macam, tadi ada yang diproduksi in-house ada yang masih kita impor, sebagian besar memang masih kita impor," tutur Dody.
Proses Produksi Pelumas
Dody menjelaskan proses produksi pelumas di unit produksi Pertamina Lubricants terintegrasi penuh dari hulu ke hilir dan didukung oleh digitalisasi, mulai dari baan baku hingga pengiriman produk. Selain itu, kontrol kualitas produk juga dilakukan 8 tahap didukung 3 laboratorium di setiap unit.
Dia menuturkan bahwa proses produksi pelumas terbagi menjadi tiga tahapan utama. Tahapan yang pertama adalah proses penerimaan dan penyimpanan bahan baku yang dikirim dari kilang. Misalnya, base oil dikirim melalui kapal tanker yang kemudian disimpan di tangki milik perusahaan.
"Proses kedua adalah proses utamanya yaitu blending. Mixing atau blending itu adalah pencampuran base oil dan additive dengan formula tertentu," jelas Dody.
Proses terakhir yakni pengisian atau filling. Sebelum memasuki proses tersebut, akan ada pengujian sampel dari hasil blending sebelum akhirnya produk dimasukkan ke dalam kemasan tergantung pada jenis produk.
"Ada tiga jenis filling line, curah ini yang kebanyakan tadi factory fill, ya, ke tambang, ke marine itu kebanyakan kita layani di curah, kemudian drum untuk pelumas-pelumas industri, dan botol yang nantinya kita masukkan ke dus," tuturnya.
Setelah seluruh proses produksi selesai, produk-produk pelumas tersebut sebagian besar akan masuk ke gudang atau warehouse di Terminal Plumpang, sementara untuk produk curah (bulk) langsung dikirim ke distributor atau konsumen industri.
Dody menuturkan bahwa seluruh proses produksi pelumas tersebut didukung oleh teknologi otomasi paling modern, yang memungkinkan terjadinya efisiensi dan akurasi tinggi sehingga berdampak pada kualitas produk.
"Production Unit Jakarta sudah menginstall teknologi paling modern di proses blending maupun filling. Pertama akan menjamin kualitas produk yang kita produksi. Dengan teknologi yang serba otomatis itu, tingkat akurasi proses produksi kita, kontaminasi produk, itu bisa kita cegah," ungkapnya.
Teknologi tersebut, lanjut dia, dapat mengoptimalisasi kapasitas unit produksi. Selain itu, perusahaan juga menerapkan berbagai standar testing dan metode uji kualitas skala internasional di Unit Produksi Jakarta.
