Membandingkan Proyek Roro Jonggrang RS Khusus Corona: Pulau Galang vs Wuhan

Serangan virus corona yang terus meluas, mendorong pemerintah berbagai negara mengambil beragam tindakan penanganan dan pencegahan. Salah satunya adalah pembangunan rumah sakit khusus.
Hal itu sudah dilakukan Pemerintah China, yang membangunnya di Wuhan, kota tempat mencuatnya kasus pertama virus corona. Bak legenda Roro Jonggrang yang meminta pembangunan candi dirampungkan dalam semalam, rumah sakit itu dibangun dalam waktu singkat.
Langkah serupa kini diikuti Pemerintah Indonesia. Presiden Jokowi meminta pembangunan rumah sakit khusus penanganan virus corona, dibangun di Pulau Galang, Kota Batam.
Lantas bagaimana perbandingan kedua rumah sakit tersebut?
Waktu Pembangunan
Rumah sakit khusus penderita virus corona atau novel coronavirus 2019 (Covid 2019) di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, rampung dibangun hanya dalam waktu 10 hari. Bangunan pertamanya yang mulai dibangun pada 23 Januari 2020, bahkan berdiri hanya dalam waktu 16 jam.
Rumah sakit yang diberi nama Huoshenshan Hospital itu, mulai difungsikan pada 3 Februari 2020. Pembangunan di area seluas 3,4 hektar itu bisa dikebut, karena menggunakan material prefabiricated. Seperti permainan Lego, panel-panel dinding, jendela, hingga atap sudah dibuat sebelumnya di pabrik, sehingga tinggal dirakit di lokasi.
Rumah sakit khusus untuk penanganan virus corona di Indonesia, juga ditargetkan untuk dibangun dalam waktu singkat. Yakni 20 hari atau dua kali lebih lama dari yang dibangun di Wuhan. Lokasi yang dipilih adalah di Pulau Galang, pulau yang pernah jadi lokasi penampungan warga Vietnam yang mengungsi dari negaranya akibat peperangan.
Demi mengejar target waktu pembangunan itu, Kementerian PUPR mengirim material menggunakan kapal dan bahkan pesawat TNI AU jenis Hercules. Material yang digunakan adalah modul panel, berupa beton pracetak. Pemerintah menargetkan, rumah sakit ini sudah bisa digunakan pada 28 Maret 2020.
Lokasi Rumah Sakit
Pemerintah China memilih Kota Wuhan sebagai lokasi pembangunan rumah sakit khusus penanganan virus corona, karena di kota itulah kasus pertama muncul dan kemudian meluas. Bahkan tak cuma satu, Pemerintah China membangun dua rumah sakit sekaligus.
Rumah Sakit Huoshenshan didirikan di pinggir Danau Caidian Zhiyin. Rumah sakit lainnya bernama Leishanshan yang berkapasitas 1.500 tempat tidur. Jika yang pertama rampung dan mulai digunakan pada 3 Februari 2020, yang kedua mulai digunakan tiga hari kemudian.
Sementara itu Presiden Jokowi memilih Pulau Galang sebagai lokasi pembangunan rumah sakit khusus. Salah satu pertimbangannya, di lokasi ini sudah ada beberapa bangunan yang bisa digunakan sebagai fasilitas pendukung operasional rumah sakit. Hanya perlu sedikit perbaikan saja.
Pulau Galang sebelumnya merupakan lokasi penampungan pengungsi Vietnam, yang meninggalkan negara mereka akibat peperangan. Saat itu pulau ini dikelola oleh badan PBB untuk penanganan pengungsi atau UNHCR. Kini Pulau Galang menjadi lokasi wisata sejarah, terkait keberadaan penduduk Vietnam yang pernah tinggal di sana. Meski terpisah dari Batam, namun lokasinya hanya sekitar 7 kilometer saja.
Konstruksi Bangunan
Rumah Sakit Huoshenshan dan rumah sakit Leishanshan yang dibangun di Wuhan, bermula dari lahan kosong. Pembangunan benar-benar dilakukan dari nol. Tak heran jika kontraktor proyek sempat menganggap misi pembangunan Rumah Sakit Huoshenshan dalam waktu 10 hari adalah proyek 'impossible' alias mustahil.
Meski berbentuk rumah sakit sementara, namun 'mission impossible' harus dilaksanakan dalam waktu yang terbatas.
"Untuk proyek skala ini, biasanya membutuhkan setidaknya dua tahun," kata Manajer Proyek Third Construction Co Ltd, Fang Xiang, dari China Construction Bureau of Third Engineering Bureau.
Sementara itu rumah sakit khusus virus corona yang dibangun Kementerian PUPR di Pulau Galang, sebagiannya memanfaatkan bangunan yang ada, bekas fasilitas penampungan pengungsi Vietnam.
"Pembersihan tempat eks pengungsi Vietnam sudah dimulai sejak Minggu (8/3). Untuk rehab akan memanfaatkan struktur yang masih bagus, sementara untuk yang rusak seperti plafon, dinding, atap akan diganti," kata Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Danis H. Sumadilaga.
