Memilih Jenis Alpukat di Pasar Senen: dari Lampung, Padang hingga Aceh

Alpukat salah satu jenis buah yang punya penggemar cukup fanatik. Buah ini bisa dimakan langsung, namun bisa juga dinikmati dalam berbagai olahan sajian mulai dari jus, cake, puding hingga es teler.
Tak pelak, buah ini selalu laris manis diburu pembeli. Afan, salah satu pedagang buah di Pasar Senen mengatakan, stok alpukat hampir tidak pernah tersisa tiap hari.
“Ini alpukat Aceh, harganya Rp 30 ribu per kg. Sisa ini aja, satu keranjang. Yang lain sudah habis dari pagi. Yang paling laris alpukat Padang, Rp 35 ribu per kg,” ungkap Afan kepada kumparan, Minggu (16/6).
Menurut Afan, alpukat Aceh punya karakteristik daging buah yang cenderung agak pucat atau putih. Sedangkan alpukat Padang warnanya lebih hijau terang. Rasanya pun lebih manis ketimbang alpukat Aceh. Itulah alasan harga alpukat Padang juga lebih tinggi.
Menurut Afan, setiap hari dirinya selalu menjual tidak kurang dari 300 kg alpukat. Itu pun hampir 80 persen sudah dipesan pelanggan seperti rumah makan, warung es dan katering. Alhasil, pada siang hari sekitar pukul 12.00 WIB, stok pun sudah menipis. Bahkan kadang hanya ada alpukat sisa sortiran.
“Jadi kalau pembeli eceran kalau siang udah enggak kebagian,” ujarnya.
Selain alpukat Aceh dan Padang, menurut Afan, ada pula alpukat Lampung. Hanya saja beberapa waktu belakangan stoknya selalu kosong.
Alpukat Lampung ciri dari kulitnya, berwarna hijau mulus dan tidak berserat. Jika dipegang semua sisi sudah empuk, berarti sudah matang walaupun warna kulitnya masih hijau terang. Sementara warna dagingnya, hijau kekuningan dan terang, jika matangnya pas, teksturnya tidak terlalu lembek.
Pedagang lain, Sus, juga mengatakan hal serupa. Dirinya mengaku tidak pernah punya stok berlebih untuk buah alpukat. Sebab, menurutnya, alpukat merupakan buah yang cukup ‘rewel’ dibanding buah lainnya.
“Kalau pun beli mentah, lalu disimpannya disusun jadi satu box, besoknya bukan matang tapi langsung busuk,” ujarnya.
Sehingga per hari Sus hanya memasok sekitar 100 kg sampai 300 kg alpukat tergantung permintaan dan ketersediaan barang di pengepul.
Sus menjual alpukat lokal tersebut dengan harga Rp 30 ribu per kg. Sedangkan alpukat sisa sortiran dijual murah sebesar Rp 25 ribu per kg.
“Kalau yang sortiran kadang busuk atasnya aja, dalamnya masih bagus. Tapi tetep dijual murah,” ujarnya.
Sus mengaku untuk di Pasar Senen, alpukat lokal masih dominan. Bahkan bisa dibilang, hampir tidak pernah ada alpukat impor yang masuk. Selain barangnya tidak ada, selisih harganya pun berbeda jauh.
“Enggak masuk sini kalau impor. Enggak pernah ada. Kalau pun ada harganya sangat mahal,” ujarnya.
Menurut Sus, alpukat bukan merupakan buah musiman. Hanya saja ketersediannya kadang terkendala oleh faktor cuaca. Jika hujan lebat, stok alpukat pun menipis karena potensi gagal panen lebih banyak. Namun secara umum, buah ini selalu ada sepanjang tahun.
