Kumparan Logo

Mengapa Sensus Ekonomi Masih Dilakukan dari Pintu ke Pintu?

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Kepala BPS RI Sonny Harry Budiutomo saat Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 Daerah Istimewa Yogyakarta di Teras Malioboro 1 Yogyakarta, Kamis (18/6/2026). Foto: BPS
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Kepala BPS RI Sonny Harry Budiutomo saat Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 Daerah Istimewa Yogyakarta di Teras Malioboro 1 Yogyakarta, Kamis (18/6/2026). Foto: BPS

Mengapa di era serba digital, Sensus Ekonomi masih dilakukan dari pintu ke pintu? Bukankah masyarakat sudah terbiasa mengisi berbagai formulir secara online?

Pertanyaan itu sering muncul. Sekilas memang tampak lebih praktis jika seluruh responden mengisi kuesioner secara mandiri. Namun dalam sensus, yang terpenting bukan hanya mengumpulkan jawaban.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap pertanyaan dipahami dengan makna yang sama oleh seluruh responden. Di situlah peran wawancara menjadi penting.

Bayangkan ketika seseorang ditanya apakah memiliki usaha. Sebagian orang mungkin langsung menjawab tidak karena usaha yang dijalankannya hanya pekerjaan sampingan. Ada yang menganggap usaha yang dikelola dari rumah tidak termasuk kegiatan usaha.

Ada pula yang berjualan melalui platform digital tetapi merasa dirinya bukan pelaku usaha karena tidak memiliki toko atau tempat usaha tetap. Padahal, dari sudut pandang statistik resmi, seluruh aktivitas tersebut dapat termasuk kegiatan usaha yang perlu dicatat.

Hal yang sama juga dapat terjadi pada berbagai pertanyaan lain. Istilah seperti tenaga kerja, jaringan usaha, atau biaya operasional mungkin dipahami berbeda oleh setiap responden. Jika masing-masing menggunakan pengertiannya sendiri, jawaban yang terkumpul tidak lagi menggambarkan hal yang sama.

Akibatnya, informasi yang dihasilkan menjadi sulit dibandingkan dan kurang tepat digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

Karena itu, pada sebagian besar responden, pendataan Sensus Ekonomi dilakukan melalui wawancara tatap muka. Petugas sensus tidak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi juga membantu menjelaskan konsep dan definisi yang digunakan apabila diperlukan.

Dengan cara ini, setiap responden memiliki pemahaman yang sama terhadap pertanyaan yang diajukan sehingga jawaban yang diberikan dapat dibandingkan secara konsisten.

Pendekatan tersebut lazim digunakan dalam berbagai sensus dan survei resmi di banyak negara. Tujuannya sederhana, yaitu menjaga kualitas informasi yang dikumpulkan agar benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan.

Meski demikian, tidak semua responden memiliki karakteristik yang sama. Untuk kelompok usaha besar yang memiliki sistem administrasi dan pencatatan yang lebih lengkap, BPS menyediakan pilihan pengisian kuesioner online secara mandiri. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi responden sekaligus memudahkan penyediaan informasi yang dibutuhkan.

Walaupun metode pengumpulannya berbeda, standar yang digunakan tetap sama. Baik melalui wawancara tatap muka maupun pengisian kuesioner secara mandiri, seluruh informasi dikumpulkan menggunakan konsep, definisi, klasifikasi, dan standar statistik yang sama.

Dengan demikian, hasil yang diperoleh tetap dapat dibandingkan dan diolah dalam satu sistem statistik yang utuh.