Kumparan Logo

Mengunjungi Fasilitas LNG Petronas di Sarawak, Beroperasi Lebih dari 40 Tahun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fasilitas LNG Petronas di Bintulu, Sarawak, Malaysia, Kamis (19/6/2025). Foto: Petronas
zoom-in-whitePerbesar
Fasilitas LNG Petronas di Bintulu, Sarawak, Malaysia, Kamis (19/6/2025). Foto: Petronas

Di bawah langit biru Sarawak, sebuah kapal pengangkut LNG besar siap bersandar di Petroleum Jetty Bintulu, salah satu terminal pelabuhan Petronas LNG Complex (MLNG). Kapal tersebut akan mengangkut gas alam cair untuk dibawa ke luar negeri, Kamis (19/6).

Terminal ini menjadi gerbang terakhir dalam rantai pasok LNG Petronas, mengantarkan bisnis gas ke berbagai negara selama lebih dari 40 tahun. Sejak mulai beroperasi pada 1983, Petronas LNG Complex (MLNG) di Bintulu, Sarawak, telah menjelma sebagai salah satu fasilitas LNG terbesar dan tertua di dunia.

Senior Managing Director & CEO, Malaysia LNG Group of Companies, Petronas Mohamed Syazwan bin Abdullah alias Laga Jenggi menjelaskan kompleks ini memiliki kapasitas produksi lebih dari 30 juta ton per tahun. Jumlah kargo yang diekspor lebih dari 16.000 ke lebih dari 50 terminal penerima di dunia, termasuk di Jepang, Korea Selatan, China, India, hingga Asia Tenggara.

Kilang ini menjadi pusat dari rantai pasok terintegrasi Petronas—dari produksi, pengolahan, hingga pengapalan—dan menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan energi global secara andal dan berkelanjutan.

“Selama empat dekade, MLNG tidak hanya menunjukkan kemampuan operasional jangka panjang, tetapi juga daya tahan dan keandalan sebagai penyedia LNG global. Bintulu telah dan akan terus menjadi jantung dari bisnis LNG kami,” katanya dalam wawancara khusus bersama media se-Asia Tenggara di Bintulu.

Senior Managing Director & CEO, Malaysia LNG Group of Companies, Petronas Mohamed Syazwan bin Abdullah di Petronas LNG Complex (MLNG) di Bintulu, Sarawak, Kamis (19/6/2025). Foto: kumparan/Ema Fitriyani

Kompleks ini merupakan salah satu fasilitas LNG terbesar di dunia yang berdiri dalam satu lokasi. Berisi tiga entitas utama—MLNG, MLNG Dua, dan MLNG Tiga—kompleks ini memiliki 9 unit pemrosesan (train) termasuk Train 9 yang modern. Kapasitas gabungannya mencapai lebih dari 30 juta ton LNG per tahun, menjadikannya tulang punggung ekspor gas Malaysia sejak 1983.

Hingga kini, MLNG telah mengirim lebih dari 15.600 kargo LNG ke pasar global. Tiga pelabuhan khususnya mampu melayani kapal LNG dari berbagai ukuran, termasuk yang berkapasitas 170.000 meter kubik, dengan dukungan lebih dari 20 bunker penyimpanan gas cair raksasa.

Petronas memiliki rekam jejak global yang kuat. Dengan kapasitas produksi lebih dari 40 juta ton per tahun (MTPA), Petronas telah melayani lebih dari 55 terminal penerima LNG di seluruh dunia, mencakup lebih dari 35 persen dari 158 terminal LNG aktif secara global.

Di pasar Asia Timur—Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok tetap menjadi pembeli utama. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Petronas memperkuat portofolio kawasan melalui ekspor ke Thailand, Vietnam, dan potensi masuk ke Filipina dan Kamboja.

“Kawasan Asia Tenggara bukan hanya dekat secara geografis, tapi juga sangat strategis bagi kami. Negara-negara di kawasan ini tengah tumbuh pesat dan membutuhkan energi yang bersih, andal, dan terjangkau—dan di sinilah LNG berperan,” terangnya.

Transformasi MLNG tak berhenti pada ekspansi pasar. Di tengah tuntutan global untuk dekarbonisasi, MLNG memperkuat langkah dengan penggunaan 45 kendaraan listrik internal dan 46 stasiun pengisian daya, hasil kolaborasi dengan Gentari. Langkah ini berkontribusi pada pengurangan 100.000 ton CO₂ setara per tahun.

Fasilitas LNG Petronas di Bintulu, Sarawak, Malaysia, Kamis (19/6/2025). Foto: Petronas

Tantangan dan Strategi

Selain itu, kompleks ini telah membangun jaringan 5G privat untuk mendukung digitalisasi operasional. Teknisi kini tak lagi membawa buku catatan: semua data, dari status motor hingga check sheet, kini terekam digital dalam dashboard pintar.

“Saya bercanda ke tim, suatu saat fasilitas ini bisa dijalankan AI. Tapi serius, kami memang menuju ke sana—agar orang fokus pada pekerjaan bernilai tambah,” ujar Laga sembari tersenyum.

Strategi rejuvenasi plant juga menjadi kunci efisiensi. Alih-alih membangun baru, MLNG memilih melakukan overhaul besar tiap 20 tahun, memastikan fasilitas tua tetap beroperasi optimal dengan biaya jauh lebih rendah dari pembangunan baru.

Namun tantangan tetap ada. Salah satunya, perubahan skema bisnis dari kontrak jangka panjang menjadi jangka pendek. “Dulu kontrak bisa 20 tahun, sekarang ada yang hanya dua tahun. Sementara membangun pabrik butuh 8–10 tahun dan investasi miliaran dolar,” ucap Laga.

Fasilitas LNG Petronas di Bintulu, Sarawak, Malaysia, Kamis (19/6/2025). Foto: Petronas

Untuk menjawab dinamika ini, Petronas memperluas portofolio dengan Floating LNG (FLNG) seperti SATU dan DUA, serta proyek ZLNG yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027. Ini menjadi bentuk fleksibilitas suplai bagi pasar berkembang, termasuk Virtual Pipeline System dan small-scale LNG untuk pelanggan kecil.

Petronas juga mengambil langkah strategis di hulu, melalui pengembangan ladang gas baru seperti Kasawari, Jerun, dan Rosmari-Marjoram, demi memastikan kelangsungan suplai jangka panjang.

Langkah ke depan, Petronas berharap bisa mendorong integrasi energi Asia Tenggara—tak hanya gas, tapi juga tenaga angin dan hijau lainnya. “Bayangkan kalau kita bisa berbagi energi di satu jaringan regional. Lebih efisien dan hemat,” ujar Laga.

Kata dia, Petronas juga menyadari pentingnya pendekatan pelanggan yang fleksibel. Mereka menyediakan beragam skema komersial, dari spot dan kontrak jangka pendek, hingga hybrid dan modular, agar bisa menjangkau kebutuhan pelanggan.

Fasilitas LNG Petronas di Bintulu, Sarawak, Malaysia, Kamis (19/6/2025). Foto: Petronas