Menunggu Langkah Pemerintah Mengatasi Kelangkaan Tahu Tempe
·waktu baca 3 menit

Pengrajin tahu dan tempe seluruh Jabodetabek melakukan aksi mogok produksi secara serempak mulai dari Senin lalu (21/2). Aksi mogok produksi ini membuat setidaknya 60 ribu ton pasokan tahu dan tempe lenyap dari pasaran.
Ketua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni mengaku pedagang warteg kini mulai kesulitan mendapat pasokan tahu dan tempe. Padahal, biasanya pedagang warteg selalu mendapat porsi pasokan yang besar karena sudah biasa berlangganan.
“Memang sudah diberitahu oleh para pedagang tempe bahwa Senin sampai Rabu mulai mogok, dan tentunya langka. Kadang kala karena sudah langganan pedagang tempe mau memberi porsi banyak kepada warteg-warteg,” ujar Mukroni kepada kumparan, Selasa (22/2).
Kondisi itu tak ayal membuat pedagang warteg semakin susah. Setelah barangnya langka, harga tahu dan tempe juga bakal naik. Untuk itu Mukroni berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
“Pemerintah diharapkan bisa menstabilkan harga karena ini menyangkut masalah hajat masyarakat bawah. Kalau harga naik tentu berdampak susah sekali karena pandemi ini,” jelasnya.
Selain pedagang warteg, hal yang sama juga dialami pedagang pasar tradisional. Sekretaris Jenderal Induk Koperasi Pasar (Inkoppas), Ngadiran mengatakan peredaran tahu dan tempe di pasar tradisional kini juga mulai sulit ditemui.
“Produksi tahu dan tempe 3 hari mogok produksi. Sampai dengan besok di Jabodetabek tidak ada. Ada tim sweepingnya juga,” ujar Ngadiran kepada kumparan, Selasa (22/2).
Ngadiran juga menyayangkan permasalahan kelangkaan tahu dan tempe ini sampai terjadi. Menurutnya pemerintah tidak konsisten dengan amanahnya untuk dapat mengelola bahan baku pangan di dalam negeri.
“Karena program budidaya dan pembinaan tani kedelai cuma jargon saat kampanye doang. Tidak impor ini, itu dan lain-lain. Buktinya bahan baku pangan apa yang tidak dimainkan importir dengan pejabat penentu kebijakan.” tuturnya.
Menunggu Kebijakan Pemerintah
Aksi mogok produksi pengrajin tahu tempe seluruh Jabodetabek ini terjadi karena harga kedelai impor yang terus melonjak. Untuk itu pengrajin sepakat melakukan aksi mogok selama tiga hari, mulai dari kemarin Senin (21/2) sampai besok Rabu (23/2).
Ketua Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta Sutaryo mengaku pemerintah sudah menghubungi asosiasi sebelum aksi mogok produksi dilakukan.
“Sudah, Kemendag komunikasi dengan Gakoptindo (Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia) sebelum demo malah, hari Minggu,” kata Sutaryo kepada kumparan, Selasa (22/2).
Namun, Sutaryo menjelaskan komunikasi tersebut hanya sebatas untuk mengakomodir keluhan-keluhan dari pengrajin tahu dan tempe saja. “Bukan pertemuan tapi ditelepon. Intinya mau diproses keinginan pengrajin,” terangnya.
Lebih lanjut, Sutaryo mengatakan bahwa aksi mogok produksi ini sesuai dengan kesepakatan asosiasi yaitu hanya dilakukan tiga hari saja. “Rabu malam sudah dagang biasa,” pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengaku tengah menyiapkan kebijakan untuk mengatasi kenaikan harga kedelai. Namun Mendag belum menjelaskan kebijakan apa yang dimaksud, namun yang pasti kebijakan tersebut katanya bakal diumumkan pekan ini.
“Sekarang kami sudah menyiapkan mitigasi untuk harga kedelai tersebut. Kami akan putuskan pada kesempatan pertama minggu depan. Nanti akan saya umumkan kebijakannya,” kata Mendag pada Kamis lalu, (17/2).
