Kumparan Logo

Menyusuri Perjalanan Shenzhen dari Desa Nelayan Jadi Silicon Valley ala China

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Kota Shenzhen di malam hari dari gedung Qianhai Kerry Centre, Kamis (23/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Kota Shenzhen di malam hari dari gedung Qianhai Kerry Centre, Kamis (23/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

"Shenzhen adalah Silicon Valley-nya China!"

Begitulah kata Co-Founder and Marketing Vice President EngineAI Robotics Technology Co, Evan Yao, mendeskripsikan betapa maju dan terintegrasinya ekosistem teknologi di Shenzhen, China.

Secara geografis, Shenzhen berada di Provinsi Guangdong dan termasuk dalam area Teluk Besar atau Greater Bay Area (GBA), bersama Guangzhou, Zhuhai, hingga Hong Kong. GBA merupakan penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di daratan China, bersaing dengan wilayah teluk lain di dunia.

Bersama 15 jurnalis lainnya dari 8 negara Asia Pasifik, kumparan berkesempatan mengelilingi dan menikmati suguhan gedung-gedung pencakar langit yang ciamik dan berbagai pusat bisnis teknologi di Shenzhen, dalam rangkaian program APEC-themed Media Training yang diadakan China International Press Communication Center (CIPCC).

Pameran mobil keluaran terbaru BYD di kantor pusat di Shenzhen, China. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Kami diajak menyambangi kantor Gree, perusahaan alat rumah tangga terkemuka dunia, lalu BYD–siapapun pasti mengenal produsen kendaraan listrik dengan penjualan terbesar di Indonesia ini, berkeliling kawasan Huaqiangbei yang merupakan pusat elektronik terbesar di daratan China, hingga pameran Shenzhen Robot Valley.

Titik Mula Modernisasi Shenzhen

Sebelum era reformasi dan keterbukaan, Shenzhen hanyalah sebuah desa kecil di pesisir Laut China Selatan. Wilayah ini identik dengan penduduknya yang mayoritas bekerja sebagai nelayan dan petani alias daerah agraris, sebelum akhirnya berkembang menjadi kota modern nan futuristik.

Sebelum menjadi Kota Shenzhen pada tahun 1979 dan ditetapkan sebagai Zona Ekonomi Khusus, desa nelayan ini awalnya bernama Bao'an dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar RMB 120,64 dan PDB per kapita RMB 134 pada 1978. Jika dibandingkan dengan Hong Kong yang memiliki PDB per kapita RMB 6.747 pada periode yang sama, Bao'an terbilang sangat miskin.

Suasana Kota Shenzhen di malam hari dari gedung Qianhai Kerry Centre, Kamis (23/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Kemudian, usai keanggotaan China di World Trade Organization (WTO), Shenzhen berkembang pesat menjadi pusat manufaktur, tidak hanya di daratan China, tapi juga seluruh dunia. Banyak perusahaan global berinvestasi di sini, seperti Dell hingga Lenovo. Lalu sejak tahun 2010, raksasa teknologi China mulai bermunculan.

Kota dengan jumlah penduduk sekitar 90 juta orang tersebut kini merupakan rumah bagi berbagai perusahaan raksasa China, sebut saja Huawei, BYD, Tencent, dan Gree, serta perusahaan teknologi baru seperti DJI, Insta360, SenseTime, hingga UBtech.

Saat ini, berdasarkan catatan Partai Komunis China (PKC), PDB Shenzhen mencapai USD 3,87 triliun dengan PDB per kapita sebesar RMB 210.000. Shenzhen bahkan disiapkan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) pada November 2026 mendatang.

Jalan Huaqiangbei di Shenzhen, China, Jumat (24/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

"Semua inovasi hebat, semua teknologi hebat, rantai pasokan, dan jumlah pengunjungnya. Kita memiliki jendela untuk terhubung dengan seluruh dunia, ini (Shenzhen) adalah pusatnya," kata Evan menambahkan, saat berbincang bersama awak media di pameran Shenzhen Robot Valley, Jumat (24/4).

Pusat Industri Robot

Co-Founder and Marketing Vice President EngineAI Robotics Technology Co, Evan Yao, saat ditemui di Shenzhen Robot Valley, Jumat (24/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Evan mengatakan, Shenzhen sangat mendukung perkembangan bisnis teknologi, terutama industri robot. Keunggulan utamanya adalah ekosistem yang terintegrasi mulai dari rantai pasok bahan baku, penelitian (R&D), hingga konsumen.

"Alasan mengapa kami membangun perusahaan di sini adalah karena kami memiliki dukungan rantai pasokan yang sangat matang. Dari awal hingga apa pun yang Anda lihat saat ini, kami mungkin membutuhkan ratusan pemasok berbeda untuk membantu kami," jelasnya.

Berkat ekosistem ini, lanjut Evan, perusahaan hanya membutuhkan waktu setengah tahun saja untuk menciptakan sebuah robot, sebab perusahaan bisa mendapatkan hampir semua komponen dan talenta di Shenzhen Robot Valley. Jika di luar kawasan ini, robot yang sama bisa dibangun lebih lama yakni sekitar 2-4 tahun.

Robot humanoid PM01, SE01, dan T800 produksi EngineAI Robotics Technology Co. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

"Tanpa rantai pasokan yang sangat dekat atau efisien, terkadang membutuhkan waktu dua kali lipat, mungkin 4 tahun atau 2 tahun untuk membangun robot. Kami hanya membutuhkan setengah tahun," ungkap Evan.

Dia menambahkan, ekosistem itu juga didukung oleh berbagai insentif dan kemudahan berusaha dari pemerintah setempat, yang tentunya sangat diperlukan bagi industri teknologi terutama bagi perusahaan rintisan (start up).

"Pemerintah selalu ada di sini, mendorong kita untuk mengejar sesuatu yang belum diketahui. Sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Jadi, saya rasa ini adalah sebagian dari semangat di Shenzhen dan juga di Robot Valley," kata Evan.

Di tengah pesatnya perkembangan robot di dunia, Evan pun menargetkan penjualan EngineAI tahun ini bisa naik 10 kali lipat dari realisasi penjualan pada tahun lalu, yakni menjadi 4.000-5.000 unit robot. Hal ini disebabkan permintaan yang cenderung meningkat.

Robot pembuat popcorn di pameran Shenzhen Robot Valley. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Sejauh ini, penggunaan robot humanoid semakin diperlukan untuk membantu pekerjaan manusia sehari-hari. Kata Evan, peran robot sudah diimplementasikan di sektor logistik, ritel, hingga kepolisian. Permintaan ini semakin besar bagi perusahaan di negara-negara maju untuk menekan biaya produksi.

"Beberapa negara Eropa, AS, Singapura, Malaysia, terkadang biaya tenaga kerja lebih tinggi dari itu. Jadi orang-orang memiliki insentif untuk membeli robot untuk melakukan sebagian pekerjaan, dengan kapasitas produksi dan juga keterampilan yang semakin besar, biaya produksi akan semakin rendah," tutur Evan.

Perusahaan robot humanoid yang berdiri sejak tahun 2023 itu juga membidik ekspansi ke Indonesia. Menurut Evan, potensi bisnis di Tanah Air sangat besar. Kendati belum mendapatkan mitra lokal untuk bekerja sama, namun dia menegaskan bahwa peluang selalu ada.

"Kita perlu menemukan mitra lokal dan jika ada pameran, kita ingin pergi ke sana untuk mengeksplorasi peluang, dan juga memberi tahu semua calon mitra tentang kita. Jadi saya pikir kita membutuhkan lebih banyak edukasi dari kedua belah pihak," katanya.

Robot kasir supermarket di pameran Shenzhen Robot Valley. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Huaqiangbei, Kiblat Elektronik dan Start Up

Tidak hanya industri robot, Shenzhen juga dikenal sebagai pusat elektronik. Lebih tepatnya, suatu kawasan bernama Huaqiangbei diklaim menjadi pusat distribusi komponen elektronik terbesar di China, bahkan se-Asia.

Jalan Huaqiangbei di Shenzhen, China, Jumat (24/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Setiap harinya, Huaqiangbei menarik lebih dari 7.000 pembeli internasional dan menghasilkan transaksi tahunan melebihi RMB 400 miliar. Siapa sangka, daerah ini awalnya merupakan area pesawahan. Sejak reformasi dan keterbukaan, seiring dengan modernisasi Shenzhen, Huaqiangbei pun mengubah wajahnya menjadi pasar utama barang-barang elektronik.

Orang Indonesia mungkin familiar dengan ITC, di Huaqiangbei juga ada beberapa pusat perbelanjaan elektronik yang legendaris, sebut saja Huaqiang Electronic World yang dibangun pada tahun 1998, SEG E-Market yang sudah eksis sejak tahun 1988, hingga Yuanwang Digital Mall yang berdiri sejak 2001.

Director of Huaqiangbei Museum, Wang Yi, mengatakan bahwa ekosistem di kawasan ini sangat mendukung bagi perkembangan industri teknologi dan menciptakan pasar yang sangat kuat.

Huaqiangbei Museum. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

"Huaqiangbei adalah kota yang sangat terbuka dan memiliki sistem rantai pasokan yang lengkap. Lingkungan pasar secara keseluruhan, termasuk kebijakan yang diberikan oleh pemerintah, beberapa insentif eksternal, dan pembinaan talenta, sehingga dapat membentuk ekosistem kewirausahaan yang sangat baik," jelasnya.

Selama 46 tahun ke belakang, Wang menuturkan bahwa Huaqiangbei menjadi salah satu bukti reformasi dan kebijakan keterbukaan di Shenzhen berjalan dengan pesat. Wang merekam perkembangan teknologi di kawasan ini secara lengkap dan komprehensif di HQB Museum.

Sementara itu, CEO sekaligus Founder TroubleMaker, Henk Werner, menilai Shenzhen sebagai pusat inkubasi perusahaan rintisan di China. Dia memutuskan merintis bisnis marketspace pada 10 tahun lalu di Huaqiangbei dan menjadi wadah bagi sekitar 18.000 pekerja lepas di bidang pengembangan produk.

CEO dan Founder TroubleMaker, Henk Werner, saat ditemui di Black Ark, Huqiangbei, Shenzhen, China, Jumat (24/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

"Saya berhenti dari pekerjaan saya dan pindah ke Shenzhen agar saya bisa berada di Huaqiangbei dan menikmati semua inovasi serta membantu orang-orang dalam pengembangan produk," katanya.

TroubleMaker merupakan salah satu dari 21 perusahaan rintisan yang tumbuh di Black Ark, kompleks perkantoran elektronik di Huqiangbei. Adapun Black Ark dimiliki oleh China Electronic Corporation (CEC).

Pusat inkubasi dan akselerasi perusahaan rintisan itu sudah eksis sejak 7 tahun lalu, mulai dari perusahaan perangkat lunak, kecerdasan buatan (AI), hingga lembaga keuangan modal ventura hingga perbankan berkantor di sana.

Jalan Huaqiangbei di Shenzhen, China, Jumat (24/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan.

Senior Manager Black Ark mengatakan bahwa pemerintah setempat memberikan subsidi atau insentif sehingga biaya sewa menjadi lebih murah, hanya sekitar RMB 60 per m2 per bulannya. Hingga saat ini, dari total 60 perusahaan, terdapat 5 perusahaan rintisan yang naik kelas menjadi unicorn berkembang di Black Ark.

Shenzhen Robot Valley dan Huaqiangbei membuktikan bahwa perkembangan teknologi tidak lepas dari campur tangan pemerintah. Entah itu berbentuk kemudahan berusaha atau bahkan subsidi dan insentif, dukungan tersebut efektif membentuk sebuah ekosistem terintegrasi mulai dari rantai pasok hingga pasar yang besar dan pesat, layaknya Shenzhen.

Shenzhen juga membuktikan kepada dunia bahwa sebuah desa nelayan kecil dan miskin bisa memiliki masa depan yang cerah hanya dalam 4 dekade saja. Mungkin saja, di kemudian hari, ada secercah harapan bagi Indonesia bisa membentuk pusat teknologi yang masif dan terintegrasi semaju Shenzhen.