Minyak Dunia Naik: Suahasil Restui BBM Nonsubsidi Naik, Mari Elka Soroti Fiskal

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengatakan harga minyak mentah masih tinggi karena tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran masih berlangsung.
Blokade Selat Hormuz masih berlangsung hingga saat ini. Pada awal perdagangan Kamis (1/10), harga Brent mencapai USD 98,21 per barel, sementara harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November sedikit berubah di angka USD 90,42 per barel.
Suahasil menuturkan dinamika di Selat Hormuz menjadi perhatian seluruh dunia karena dampaknya pada kenaikan harga komoditas. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan di AS juga membuat gejolak di pasar keuangan.
"Kalau Amerika berketetapan hati untuk terus punya tensi dengan Selat Hormuz, dengan Iran, maka yang juga terjadi adalah harga komoditas dunia meningkat. Kapal tanker tidak bisa lewat, minyak dunia suplainya menurun, harganya meningkat," ujarnya saat Memorial Lecture 100 Tahun Frans Seda, Kamis (1/10).
Dampak dari kenaikan harga minyak ini sangat terasa di dalam negeri. Harga komoditas energi, seperti BBM seharusnya ikut terkerek, namun khusus bagi BBM nonsubsidi untuk masyarakat mampu.
"Pemerintah Indonesia punya cara yang berbeda. Kita mengatakan bahwa kita kelola kebutuhan energi dalam negeri, kita bukan hanya sekadar setiap hari mengikuti harga internasional, tapi kita menjaga beberapa jenis energi dengan harga yang tetap," katanya.
Dengan demikian, Suahasil mempersilakan BBM bisa naik mengikuti fluktuasi harga minyak mentah global, kecuali komoditas bersubsidi yang dipastikan tetap ditahan harganya hingga akhir tahun.
Untuk itu, dia menegaskan bahwa APBN harus tetap sehat untuk mengantisipasi tambahan belanja negara karena naiknya subsidi energi.
"Beberapa jenis energi yang lain, silakan. Terutama jenis-jenis energi yang dikonsumsi oleh kelompok masyarakat yang lebih memiliki penghasilan lebih tinggi. Mengapa itu dilakukan? Tidak lain adalah karena di tengah dinamika global, kita enggak bisa mengelak," tegas Suahasil.
Ditemui usai acara, Suahasil enggan berkomentar banyak terhadap harga BBM Pertamax yang tidak mengalami perubahan pada 1 Oktober 2026, di tengah naiknya kembali harga minyak mentah.
"Kalau (Harga) Pertamax tanya Pertamina," ujarnya.
Risiko Fiskal
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, mengatakan harga minyak mentah sempat turun, namun kembali meningkat. Dia memprediksi kondisi ini akan berkepanjangan dan berdampak pada fiskal Indonesia.
"Harga minyak yang naik dan tax ratio kita yang turun, tekanan ke fiskal, subsidi energi yang akan meningkat, akan menyempitkan ruang fiskal yang ada. Jadi harga energi, subsidi BBM meningkat, ruang fiskal menyempit, jadi bantalan untuk guncangan yang kita hadapi dengan harga minyak naik, slowdown in world economy, isu yang kita akan hadapi itu bantalnya berkurang," ungkapnya.
Marie menjelaskan bahwa ekspansi fiskal tidak akan bisa membantu untuk menstimulasi pertumbuhan dalam negeri. Jika harus menambah utang, hal itu harus diiringi dengan mengelola komposisi utang, tenor utang, dan dampak dari nilai tukar.
Dia menyoroti bahwa Debt Service Ratio pemerintah Indonesia sudah meningkat di atas 20 persen. Dengan begitu, Marie menilai beban subsidi energi ini bisa diantisipasi antara dengan menaikkan harga BBM subsidi atau membelanjakannya dengan lebih efisien.
"Jadi pertanyaan subsidi BBM ini apakah bisa dikurangi dengan either meningkatkan harga BBM, atau lebih efisien di dalam men-deliver subsidi BBM. Ini adalah diskusi-diskusi yang sedang dilakukan," tegas Marie.
