Moratorium Industri Nikel, Produk Nikel Setengah Jadi RI Bakal Turun 4% di 2026

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyambut baik rencana penghentian sementara penerbitan izin atau moratorium fasilitas pengolahan atau smelter nikel yang hanya memproduksi barang setengah jadi.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menilai program hilirisasi nikel yang telah berjalan saat ini masih seperempat jalan menuju industrialisasi penuh. Moratorium ditargetkan dapat menurunkan produksi nikel olahan setengah jadi hingga 4 persen pada tahun ini.
"Idealnya produk-produk nikel setengah jadi (intermediate) Indonesia mayoritasnya dapat terserap industri manufaktur di dalam negeri dan sebagian kecilnya diekspor ke luar negeri," jelasnya kepada kumparan, Rabu (14/10).
Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 28 Tahun 2025 yang membatasi pembangunan industri nikel yang hanya menghasilkan produk-produk setengah jadi seperti nickel pig iron (NPI), feronikel (FeNi), nickel matte, dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
Arif menyebut pemerintah mendorong pembangunan dan pengembangan industri nikel lebih hilir lagi, hingga dapat menghasilkan produk-produk jadi seperti stainless steel, prekursor, katoda hingga barang-barang aplikatif.
Menurutnya, penerapan aturan tersebut bersamaan tata kelola produksi yang berkelanjutan dapat menciptakan industri yang optimal sekaligus memperpanjang umur cadangan bijih nikel di Indonesia lebih lama lagi. Kelebihan pasokan bijih nikel juga bisa mengendalikan harga produk akhir di pasar global.
"Pemangkasan produksi dapat membantu untuk menjaga umur cadangan bijih nikel Indonesia, juga pasokan bijih nikel yang direm akan menahan laju produksi produk turunan, yang akhirnya akan mencegah terjadinya oversupply di pasar global," tutur Arif.
Namun sisi negatifnya, lanjut Arif, jika pemangkasan pasokan bijih nikel terlalu ketat otomatis akan memicu kenaikan harga bijih nikel dan tingginya persaingan antar-smelter untuk mendapatkan bijih nikel.
Dia mengatakan, industri hilirisasi nikel sedang membutukan pasokan bakan baku bijih nikel untuk memenuhi kapasitas yang sudah berjalan, juga untuk proyek-proyek ekspansi dan baru, terutama smelter HPAL yang memproduksi bahan baku baterai, yang telah dan akan mulai beroperasi.
"Perlu untuk dibuatkan peta jalan dan jadwal bertahap untuk menuju tingkat produksi yang optimal," imbuh Arif.
Adapun poin krusial dalam PP No. 28 Tahun 2025 mencakup pembatasan atau moratorium investasi baru untuk pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel, yang hanya menghasilkan produk NPI, FeNi, Matte dan MHP, melalui pengetatan Izin Usaha Industri (IUI).
"Yang perlu menjadi fokus lanjutan dari pemerintah adalah bagaimana Indonesia dapat menarik lebih banyak partisipasi investasi sektor swasta untuk bergerak lebih jauh ke hilir dalam rantai nilai baterai berbasis nikel, industri stainless steel, teknologi transisi energi dan industri-industri teknologi tinggi," ucap Arif.
Total Produksi Nikel Setengah Jadi
Arif mengungkapkan total produksi nikel nasional telah mencapai 2,5 juta ton nikel dalam bentuk produk setengah jadi, terdiri dari 2,05 juta produk NPI, FeNi dan Matte, serta 450 ribu ton nikel dalam bentuk MHP dan nikel sulfat.
Jumlah produksi sebesar itu telah menjadikan Indonesia sebagai pemasok nikel terbesar di dunia, yakni sekitar 60 persen dari total produksi global. Dengan kebijakan moratorium, ia memprediksi total produksi ini akan menurun.
"FINI meng-estimasi bahwa total produksi nikel olahan Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan akan mengalami penurunan sekitar 3,5 hingga 4 persen, jika dibandingkan produksi tahun 2025 total 2,5 juta ton Ni," ungkap Arif.
Sedangkan pada tahun 2027, Arif menuturkan akan ada penambahan kapasitas produksi dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis HPAL yang akan selesai tahap konstruksinya, dalam waktu dekat memasuki tahapan commissioning dan operasi penuh.
"Pada tahun 2025 produk HPAL berupa MHP, nikel sulfat dan kobalt sulfat sekitar 450 ribu ton nikel. Diperkirakan pada akhir 2027 kapasitas produksi MHP di Indonesia akan meningkat signifikan melebihi 900 ribu ton nikel," tandasnya.
