Nasib Perajin Tahu Tempe Kini: Harga Kedelai Tinggi, Penjualan saat Ramadan Sepi

Ketua Pusat Koperasi Tahu dan Tempe (Puskopti) DKI Jakarta Sutaryo memprediksi akan terjadi penurunan penjualan tahu dan tempe sebanyak 50 persen pada saat Ramadan dan Idul Fitri. Salah satu penyebabnya adalah konsumsi tahu dan tempe mengalami penurunan pada saat momen terbesar umat muslim tersebut.
“Kedelai indikasinya tetep naik, tapi pasar tempe dan tahu sepi, puasa sepi sampai 50 persen,” katanya kepada kumparan, Sabtu (20/3).
Sutaryo menjelaskan, saat ini pengrajin tahu dan tempe harus memutar otak untuk mampu menyiasati penurunan permintaan. Namun, para pengrajin memilih untuk merampingkan ukuran tempe untuk menekan biaya produksi.
Sebab, harga kedelai naik menjadi Rp 10 ribu per kilogram (kg) dibanding pada awal tahun sebesar Rp 7 ribu per kg.
Ia memprediksi permintaan akan kembali normal pada saat pertengahan syawal.
“Tanggal 15 syawal pasar tempe biasanya mulai normal kembali,” tambahnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Syailendra mengatakan, pemerintah bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan berkomitmen untuk menjaga harga kedelai impor tetap sama seperti bulan lalu.
Ia menambahkan, meskipun saat ini terjadi sedikit kenaikan harga kedelai dunia, Kemendag tetap menjamin stok kedelai untuk penyediaan bulan Maret 2021 masih cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pengrajin tahu dan tempe dengan harga yang stabil dan tetap terjangkau.
