Kumparan Logo

Neraca Perdagangan RI Defisit Rp 21,4 Triliun di Mei 2018

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrai ekspor impor di pelabuhan (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrai ekspor impor di pelabuhan (Foto: Pixabay)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan selama Mei 2018 mengalami defisit sebesar USD 1,52 miliar atau sekitar Rp 21,4 triliun, mengecil dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD 1,63 miliar. Defisit ini disebabkan laju impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Untuk laju ekspor, selama bulan lalu mencapai USD 16,12 miliar atau mengalami kenaikan 10,9% secara bulanan (mtm) maupun naik 12,47% secara tahunan (yoy). Berdasarkan jenisnya, baik ekspor nonmigas maupun migas mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 9,25% (mtm) dan 28,8% (mtm).

Selama Mei, seluruh sektor ekspor juga tercatat mengalami kenaikan secara bulanan. Namun demikian, jika dilihat secara tahunan, ekspor di sektor pertanian mengalami penurunan 1,78% (yoy).

Secara tahunan, ekspor di sektor migas naik 21,47% (yoy), industri pengolahan naik 8,98% (yoy), dan pertambangan lainnya naik 27,99% (yoy).

"Ekspor pertanian yang naik secara bulanan yaitu mutiara hasil budidaya, tembakau, dan sarang burung. Sementara secara tahunan yang turun itu tanaman obat dan aromatik, rempah-rempah seperti lada hitam dan lada putih," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (25/6).

Adapun laju impor selama Mei 2018 sebesar USD 17,64 miliar atau nailk 9,17% (mtm) dan naik 28,12% (yoy). Impor nonmigas maupun migas mengalami kenaikan masing-masing sebesar 20,95% (mtm) dan 7,19% (mtm).

Berdasarkan penggunaan barangnya, baik barang konsumsi, bahan penolong, maupun barang modal mengalami kenaikan. Secara bulanan, barang konsumsi tercatat mengalami kenaikan paling besar yaitu 13,88% (mtm).

"Untuk barang konsumsi impor itu naik raw sugar, anggur dari China, dan vaksin dari India," kata dia.

Sementara itu secara tahunan, impor barang modal masih tercatat yang terbesar yakni sebesar 43,4% (yoy), disusul oleh barang konsumsi yang naik 34,01% (yoy), dan bahan penolong yang naik 24,55% (yoy).