Kumparan Logo

Nestle Bangun Pabrik Baru di Batang, Perputaran Duit Bisa Rp 4,5 Miliar per Hari

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.
 Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menyambut baik PT Nestle Indonesia yang membangun pabrik baru di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah. Ia hadir secara langsung saat proses groundbreaking pabrik tersebut.

Bahlil mengatakan langkah Nestle bukan hanya perkara investasi yang ditanamkan di Indonesia. Namun, ia merasa investasi Nestle bisa juga membantu perekonomian masyarakat.

“Khusus untuk Nestle saya memberikan apresiasi terus menerus karena proses investasinya kurang lebih USD 120 juta, bukan USD 120 juta yang menjadi apresiasi saya, tapi karena sistem yang dikelola adalah melibatkan masyarakat setempat dengan peternak-peternak agar hasilnya bisa diambil sebagai bahan baku,” kata Bahlil saat groundbreaking pabrik Nestle, Kamis (20/5).

Bahlil menjelaskan Nestle tidak mengambil bahan baku dengan berinvestasi ke pihak lainnya. Nestle akan bekerja sama dengan peternak di desa atau kecamatan yang hasilnya menjadi bahan baku untuk diproses.

Logo nestle. Foto: Reuters

Bahlil mengungkapkan perputaran uang dari proses bisnis yang dilakukan Nestle tersebut bisa mencapai Rp 150 miliar per bulan.

“Nah satu hari perputaran duit yang bisa rakyat terima dari hasil pembelian susu itu Rp 4,5 miliar, kali 30 itu kurang lebih Rp 150 miliar per bulan akan dana berputar di Jateng, khususnya di Kabupaten Batang,” ungkap Bahlil.

Bahlil menegaskan keadaan tersebut tentu juga bisa menciptakan banyak peluang lapangan pekerjaan. Untuk itu, Bahlil meminta khususnya kepada Pemkab Batang untuk memperhatikan kualitas sumber daya yang ada.

“Bupati saya minta ini dijaga, masyarakatnya dikasih ternak yang baik, dikasih skill yang baik, agar produk hasil yang dibawa dari masyarakat itu mempunyai nilai kualitas yang mumpuni agar kemudian nilai jualnya juga bagus,” tutur Bahlil.