Orang Indonesia Kurang Piknik, Ini Alasannya Menurut Perencana Keuangan
ยทwaktu baca 3 menit

Orang Indonesia disebut-sebut kurang piknik. Dengan angka rata-rata penduduk Indonesia melakukan perjalanan wisata domestik setahun hanya 2,6 kali.
Data soal kurang piknik ini diungkapkan oleh Direktur SDM dan Digital PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Herdy Harman, mengacu pada data yang dirilis United Nation The World Tourism Organization (UNWTO) pada 2019.
Angka tersebut cukup rendah dibanding negara lain di Asia, seperti Malaysia, China serta Jepang.
"Indonesia penduduk jarang piknik dalam setahun data United Nation World Tourism Organization 2019, rata-rata setahun penduduk Indonesia cuma 2,6 kali bepergian. Compare jauh dengan masyarakat dunia lainnya," ujar Herdy dalam Ngopi BUMN di Kementerian BUMN, Senin (12/12).
Warga Australia misalnya, tercatat melakukan perjalanan sebanyak 14,3 kali. Kemudian Malaysia 10,3 kali, Korea Selatan 6,6 kali, China 5,7 kali, Jepang 4,7 kali dan Thailand 3,6 kali. Indonesia hanya lebih unggul dari Vietnam yang hanya 1,7 kali, India 1,1 kali serta Filipina yang hanya 1,0 kali.
Kendati begitu, perencana keuangan Andy Nugroho menilai parameter piknik yang dimaksud mesti diperjelas terlebih dahulu. Menurutnya, bila mengacu pada pengertian berdasarkan KBBI, piknik merupakan aktivitas bersenang-senang atau tamasya. Lebih spesifik lagi aktivitasnya dilakukan ke luar kota.
"Kalau saya pribadi, piknik itu aktivitas kita bersenang-senang, rileks, refreshing. Enggak harus ke luar kota, di dalam kota pun sepanjang kita mengunjungi tempat tersebut kemudian pikiran kita refresh, itu sudah piknik," kata Andy kepada kumparan, Minggu (18/12).
Di Ibu Kota Jakarta misalnya, Andy mencontohkan piknik bisa dilakukan dengan mengunjungi tempat wisata dalam kota seperti Ancol, Pantai Indah Kapuk, atau sekadar piknik di taman-taman kota.
Dia menilai masih perlu diperjelas juga apakah piknik yang dimaksud mesti bepergian menggunakan transportasi udara. Atau warga Jakarta yang bepergian seperti ke Bogor hingga Taman Bunga Cibodas bisa masuk dalam kategori telah melakukan piknik.
"Kalau menurut saya orang Indonesia kurang piknik? Tempat pariwisata ramai banget. Di dalam kota ramai juga yang mengunjungi tempat wisata," sambungnya.
Bila diukur melalui kacamata kemampuan finansial, ke luar kota atau bepergian menggunakan pesawat memang dia akui sebagai aktivitas piknik yang cukup membutuhkan biaya.
Dia melihatnya bahwa orang-orang dengan penghasilan pas-pasan, akan mempertimbangkan kondisi finansial dan menentukan skala prioritas. Sehingga memungkinkan buat menjadikan piknik bukan hal prioritas dan lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan sehari-hari serta menyimpan dana darurat.
Ditambah lagi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir pandemi COVID-19 telah memberikan dampak pada sektor keuangan. Dampak badai PHK masih memungkinkan dirasakan masyarakat sampai saat ini.
"Mungkin mereka yang dulu kena PHK, badai lay off dari fintech, itu kan mungkin saja saat ini belum dapat kerja. Jadi otomatis bikin skala prioritas," tuturnya.
"Piknik menjadi salah satu hal yang harus dikesampingkan, harus kita tidak prioritaskan," sambung Andy Nugroho.
