Pedagang Gorengan Menjerit Harga Minyak Goreng Melejit, Apa Solusinya?
ยทwaktu baca 3 menit

Kenaikan harga minyak goreng memunculkan banyak keluhan dari masyarakat, terutama pelaku UMKM sektor kuliner mulai dari pedagang gorengan sampai nasi padang.
Harga minyak goreng ukuran 2 liter yang biasanya dijual Rp 26 ribu sampai Rp 29 ribu, sempat tembus hingga Rp 40 ribu.
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah secepatnya untuk meredam kenaikan ini. Sebab, salah satu penyebab kenaikan harga minyak goreng karena harga Crude Palm Oil (CPO) naik di pasar global.
Dia menilai penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk minyak goreng sudah seharusnya segera ditetapkan. Selain itu, jika perlu adakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk CPO agar kebutuhan domestik terpenuhi.
"Saya kira HET untuk minyak goreng perlu ditetapkan secepatnya, kalau perlu ada DMO yang bertujuan memenuhi pasar di dalam negeri baik itu untuk kebutuhan minyak goreng, industri kimia, dan juga energi B30," kata Bhima saat dihubungi kumparan, Jumat (5/11).
Langkah kedua, pemerintah perlu memastikan distribusi CPO berjalan lancar. Bhima menegaskan saat ini masih ada masalah krisis logistik, di mana pengiriman di pelabuhan mengalami keterlambatan serta jumlah pekerja di pelabuhan belum optimal.
Selain itu, adanya pengurangan jumlah kontainer dalam pelayaran juga mengakibatkan harga minyak goreng di level konsumen meningkat secara konsisten.
"Ketiga, saya bilang sih naikkan saja PPh ekspor untuk produk CPO, sehingga orientasinya tidak semua ke ekspor tapi pemenuhan kebutuhan dalam negeri," lanjut Bhima.
Harga Minyak Goreng Tetap Naik Walau Serapan CPO Domestik Meningkat
Harga minyak goreng yang terus meningkat ini pada faktanya berkebalikan dengan serapan CPO domestik yang justru semakin meningkat. Mengutip data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), produksi CPO pada 2019 sebanyak 47,18 juta ton. Pada 2020 turun tipis menjadi 47,03 juta ton, dan proyeksi akhir tahun ini 47,47 juta ton atau naik 0,39 persen.
Untuk kebutuhan domestik seperti sektor makanan termasuk minyak goreng, kosmetik, industri oleokimia, dan biodiesel, realisasi pada 2019 mencapai 16,747 juta ton. Sedangkan pada 2020 naik menjadi 17,349 juta ton, dan di akhir tahun ini diprediksi menjadi 18,673 juta ton atau naik 7,63 persen.
"Dari sisi supply atau pasokan, ada juga problem peremajaan kelapa sawit ini bertambah, jadi ketika tiga tahun terakhir kenaikan permintaan CPO terjadi, mereka tidak siap mengantisipasi tren kenaikan secara berbarengan. Ada shortage dalam pasokan, masalah peremajaan, dan intensifikasi," papar Bhima.
Menurut Bhima, untuk meningkatkan produksi CPO, Indonesia butuh teknologi dan mendorong industri sawit yang berkelanjutan. Karena kenaikan produksi biasanya disertai dengan pembukaan lahan baru yang menimbulkan deforestasi.
"Ini jadi salah satu catatan ketika kenaikan harga minyak goreng terjadi, ditambah ada krisis energi, maka permintaan CPO akan naik secara konsisten. Jadi harga CPO dan produk turunannya pun secara konsisten naik," ujarnya.
Harga minyak goreng masih terpantau mengalami kenaikan. Menurut laman Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga minyak goreng curah hari ini, Jumat (5/11), terpantau stabil di angka Rp 17.000 per kilogram.
Untuk minyak goreng kemasan bermerek 1 hari ini mengalami kenaikan 0,28 persen menjadi Rp 18.050, serta minyak goreng kemasan bermerek 2 juga naik 0,28 persen menjadi Rp 17.600.
