Pedagang Gorengan Kena Dampak Krisis Energi di China dan India
ยทwaktu baca 2 menit

Pedagang gorengan ikut terdampak krisis energi di China dan India. Untuk memasok kebutuhan energi di dua negara itu, ekspor minyak sawit mentah atau CPO (Crude Palm Oil) dari Indonesia melonjak.
Hal itu disinyalir jadi penyebab seretnya pasokan di dalam negeri, yang membuat harga minyak goreng melonjak. Harga minyak goreng dalam kemasan bermerek isi dua liter yang biasa dijual Rp 25.000, melonjak jadi Rp 35.000.
Demikian juga harga minyak goreng curah atau pun minyak goreng dalam kemasan sederhana. Persentase kenaikan harganya dalam sebulan terakhir antara 40 persen hingga 50 persen.
Hal ini dikeluhkan para pedagang gorengan, pemilik warung nasi padang, hingga pengelola warteg. Untuk mengolah bahan jualan mereka, banyak dibutuhkan minyak goreng.
Seorang pedagang gorengan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Darkam, terpaksa mengurangi pembelian minyak goreng dari 5 liter menjadi hanya 4 liter per hari. Konsekuensinya, dia juga harus mengurangi penjualan gorengannya.
"Pembelian (minyaknya) berkurang, omzet gorengan juga berkurang 50-70 persen," ujar Darkam, Selasa (2/11).
Untuk mengatasi lonjakan harga minyak goreng ini, Kementerian Perdagangan minta pengusaha sawit memprioritaskan pasokan ke dalam negeri ketimbang ekspor. Tapi Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Oke Nurwan, menampik jika ekspor CPO akan disetop sama sekali.
"Pada dasarnya pemerintah lebih mengutamakan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri, ekspor tidak ditutup tapi mengutamakan kebutuhan dalam negeri," katanya kepada kumparan, Rabu (3/11).
Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memang mengungkapkan adanya lonjakan ekspor, yang dipicu krisis energi di China dan India. Data terbaru yang dirilis Oktober 2021 menunjukkan ekspor CPO di Agustus 2021 mencapai 4,2 juta ton atau naik 1,5 juta ton dari Juli 2021.
Nilai ekspornya juga naik USD 1,6 miliar dari Juli 2021, jadi USD 4,4 miliar di Agustus 2021.
"Lonjakan kenaikan ekspor terutama terjadi di beberapa negara tujuan ekspor utama produk kelapa sawit, seperti China dan India. Apalagi India menurunkan pajak impor dari 15 persen jadi 10 persen," kata Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono.
Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung, membantah ada pengurangan pasokan CPO ke pasar dalam negeri. Menurutnya, pasokan CPO ke pasar lokal naik jadi 35 persen, dibandingkan sebelum ada program B30 yang cuma 16 persen-18 persen dari produksi CPO nasional.
Mengutip data GAPKI, produksi CPO nasional pada Agustus 2021 mencapai 4,2 juta ton. Sedangkan produksi Palm Kernel Oil (PKO) sebesar 400 ribu ton.
