Pelajaran dari Bom Waktu Pengangguran Pilot
Once you have tasted flight, you will forever walk the earth with your eyes turned skyward, for there you have been, and there you will always long to return.
Betapa benarnya ucapan pelukis Leonardo da Vinci itu. Tak peduli mendung atau hujan, selalu ada matahari saat terbang menembus awan. Selalu ada cahaya bulan bintang saat terbang di malam hari ketika semua warna nyaris sirna.
Pilot bisa merasakan semua sensasi itu hampir setiap hari, sepanjang tahun.
Bagi banyak orang, menjadi pilot lebih dari sekadar pekerjaan. Ini adalah mimpi. Mimpi yang sayangnya bukan pilihan bagus dalam tiga tahun belakangan.
Ratusan pilot Indonesia harus menganggur. Beberapa di antaranya dengan berat hati lantas berpindah haluan dan mengubur mimpi dalam-dalam.
“Saya mau fight sampai tahun ini. Kalau enggak dapet kejelasan, mungkin saya akan kuliah, atau bekerja, dan mengubur cita-cita saya menjadi pilot,” kata Wahyu (bukan nama sebenarnya), mendeklarasikan kekecewaannya.
Wahyu bercerita, menjadi pilot adalah cita-citanya sejak kecil, persis seperti anak-anak dalam sejumlah iklan di televisi.
Oke, banyak orang pasti berpikir, “lulusan lain juga banyak yang menganggur, tapi tidak seheboh ini. Sarjana ekonomi saja banyak pengangguran.”
Omongan itu bisa jadi benar. Tapi sebentar, ada hal yang membedakan profesi pilot dengan yang lain. Salah satunya: biaya pendidikan ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Ironisnya, ratusan pilot pengangguran ini sebetulnya tak perlu terjadi andai sejak awal ada pengawasan yang benar. Sebab, izin pendirian sekolah dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan. Fasilitas, silabus, hingga ujian kelulusan pun berada di bawah pemantauan Kemhub. Seperti pula naik-turunnya kurva industri penerbangan yang bisa diketahui.
Maskapai penerbangan menyebut pemerintah dulu tak berkomunikasi intens soal tenaga pilot ini. Kini, setelah bom waktu soal pengangguran pilot meletus, Kemhub tentu tak tinggal diam. Pemetaan masalah dan langkah-langkah penanggulangan segera dilakukan.
Hasilnya mulai terlihat, meski belum tuntas. Jumlah pilot pengangguran awal tahun ini sudah berkurang setengahnya dari September 2017 yang mencapai 1.200 orang. Kini, angka itu berada di kisaran 600 orang.
Ledakan pilot pengangguran ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan industri penerbangan untuk menjaga komunikasi dan mencermati betul supply and demand pada sektor mereka.
Wahyu, yang salah satu lulusan terbaik di sekolahnya, masih mencoba menjaga asa sampai akhir tahun ini. Ia berharap masih mendapat kesempatan untuk melakoni profesinya impiannya: pilot.
Bila ternyata hingga Desember 2018 tak ada nasib baik menyapa, Wahyu harus realistis: mengubur dalam-dalam mimpinya demi menyambung hidup.
