Kumparan Logo

Pengembang Keluhkan Kenaikan Suku Bunga BI Jadi 6 Persen: Sangat Berat

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menghitung pecahan uang rupiah (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro)
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menghitung pecahan uang rupiah (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7 Day Repo Rate naik 25 basis poin (bps) ke level 6 persen pada bulan ini. Kenaikan suku bunga acuan ke enam kalinya ini sepanjang 2018 memang di luar prediksi banyak pihak.

Kenaikan bunga ini dalam jangka panjang tentu berpengaruh pada bunga kredit di perbankan. Misalnya bunga kredit sektor konsumsi seperti KPR. Kenaikan suku bunga BI lantas dikeluhkan Sekretaris Jenderal DPP Real Estate Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida. Dia meminta agar BI tak lagi menaikkan suku bunga.

"Kita punya allowance yang masuk ke titik-titik yang mengkhawatirkan, jadi jangan naik-naik terus lah," keluhnya saat ditemui di gelaran REI Mandiri Property Expo di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (17/11).

Dia mengatakan kebijakan bunga itu pasti akan mengerek suku bunga KPR yang ada di perbankan. Sebab, bank juga merupakan mitra kerja developer dalam memenuhi kebutuhan perumahan di Indonesia.

"Memang belum ada pengaruh, tapi cepat atau lambat akan pengaruh ke bunga kredit KPR. Ini akan berat," kata dia lagi.

REI Mega Expo 2018 di JCC Senayan, Sabtu (17/11/20180. (Foto: Elsa Toruan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
REI Mega Expo 2018 di JCC Senayan, Sabtu (17/11/20180. (Foto: Elsa Toruan/kumparan)

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen mengapresiasi keputusan BI menaikkan suku bunga acuan. Sebab menurutnya langkah menaikan suku bunga bertujuan untuk mengimbangi defisit neraca perdagangan (current account deficit/CAD).

“Peningkatan suku bunga ini sebetulnya perlu dicermati bahwa ini untuk mengimbangi current account deficit kita. Portofolio yg terjadi di 2017 dan sebelum 2017 kan negatif tapi ada kompensasi asing masuk. Transaksi di 2018 masih negatif dan kebetulan portofolio tidak masuk tapi keluar namun diimbangi SBN. Kalau sekarang 1-2 minggu ini outflow mulai jadi inflow termasuk di SBN,” ungkap Hoesen di Hotel Novotel, Solo, Jawa Tengah, Jumat (16/11).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno juga menyatakan dukungannya pada kebijakan BI. Inarno menampik bahwa kenaikan suku bunga bakal berubah menjadi sentimen negatif bagi Indek Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya investor telah mengantisipasi adanya kenaikan suku bunga. Buktinya, kemarin IHSG ditutup menguat pada level 6.012,35 atau naik 0,95 persen meski suku bunga naik menjadi 6 persen.

“Kemarin BI naikan suku bunga, tapi ternyata indeks naik cukup signifikan. Hal ini sudah diantisipasi investor sebelumnya. Gubernur BI kan sudah memberikan sinyal bahwa tahun ini masih akan ada dua kenaikan lagi. Kemarin sudah sekali kan, jadi sudah masuk perhitungan mereka,” ujarnya.