Kumparan Logo

Pengusaha: Industri Tekstil dan Pengasinan Ikan Tak Butuh Garam Impor

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petambak sedang membersihkan tambak garam. (Foto:  ANTARAFOTO/Basri Marzuki)
zoom-in-whitePerbesar
Petambak sedang membersihkan tambak garam. (Foto: ANTARAFOTO/Basri Marzuki)

Kualitas garam lokal diklaim tidak bisa digunakan untuk keperluan industri. Kadar beberapa kandungan yang ada di dalam garam lokal tidak sesuai dengan standar kebutuhan industri.

Meski demikian, Corporate Legal Secretary PT Cheetam Garam Indonesia Tony Hindrianto mengatakan garam lokal sebenarnya masih dapat diserap oleh beberapa industri seperti tekstil, pakan ternak dan pengasinan ikan.

“Garam lokal bisa untuk industri tekstil, makanan ternak dan pengasinan ikan. Industri semacam itu tidak membutuhkan kadar NaCl hingga 97%,” ungkap Tony di Hotel Grage, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (20/3).

Sedangkan untuk industri lain, Tony mengungkapkan garam yang digunakan harus memenuhi standar. Menurut Tony, standar tersebut tidak hanya ditentukan oleh pihak industri. Namun juga bersinggungan dengan peraturan pemerintah.

Garam halus. (Foto: Wikimedia commons/Pinpin)
zoom-in-whitePerbesar
Garam halus. (Foto: Wikimedia commons/Pinpin)

“Standar di garam tidak bisa sembarangan karena itu harus sesuai BPOM, standar halal, SNI. Jadi bukan dari industri sendiri. Sudah ada standarnya apalagi untuk konsumsi,” ujarnya.

Tony mengungkapkan, sulitnya mengatur kadar NaCl dalam garam lokal diakibatkan karena garam dihasilkan oleh banyak petambak. Tony mencontohkan, di luar negeri, tambak garam seluas 500 hektare hanya dikelola oleh satu petambak.

“Sedangkan di sini ada banyak petambak. Kalau ada 1.000 petambak berarti ada 1.000 kualitas yang industri terima,” sebutnya.

Untuk itulah garam lokal masih sulit diterima beberapa industri tertentu. Pun begitu, industri tidak serta merta melepas tanggung jawab. Tony mengatakan pihaknya juga tetap melakukan serapan untuk garam lokal. Meski demikian ia tidak merinci jumlahnya.

“Kami juga melakukan pendampingan. Tidak mungkin kita impor terus. Suatu saat harus swasembada,” ujarnya.