Perang Iran Ganggu Pasokan Energi, Pakistan Alami Pemadaman Listrik
ยทwaktu baca 2 menit

Pakistan diproyeksikan akan menghadapi gelombang pemadaman listrik imbas perang di Timur Tengah yang menghambat pasokan gas alam cair (LNG). Padahal, Pakistan bersiap menjadi tuan rumah putaran berikutnya untuk perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Mengutip Bloomberg, kekurangan listrik negara itu mencapai 4.500 megawatt pada Rabu (15/4) malam, saat konsumsi berada di puncak, berdasarkan pernyataan kementerian energi.
"Angka tersebut setara dengan sekitar seperempat dari total kebutuhan listrik," tulis laporan Bloomberg seperti yang dikutip kumparan.
Negara di Asia Selatan ini tengah menghadapi krisis energi terbesar dalam beberapa tahun terakhir setelah perang di Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, sementara Qatar terpaksa menghentikan ekspor dari fasilitas LNG terbesar di dunia setelah serangan pada awal Maret.
Kementerian memperingatkan, pemadaman bergilir atau load shedding kini meluas hingga lebih dari dua jam pada malam hari di sejumlah wilayah, sebagian disebabkan oleh menurunnya produksi listrik tenaga air.
Laporan lokal bahkan menyebutkan pemadaman bisa berlangsung lebih lama, hingga 14 jam, dengan dampak paling besar dirasakan di wilayah pedesaan.
Presiden Federation of Pakistan Chambers of Commerce & Industry, Atif Ikram Sheikh, menyatakan sektor industri turut terdampak signifikan oleh pemadaman listrik dalam beberapa hari terakhir.
Ia menyebut industri menghadapi pemadaman sekitar delapan jam per hari, yang akan berdampak pada ekspor maupun produksi dalam negeri.
Pakistan tercatat mengimpor hampir seluruh kebutuhan LNG yang digunakan untuk pembangkit listrik dari Qatar. Saat ini, negara tersebut mempertimbangkan untuk mencari pasokan tambahan di pasar spot yang harganya lebih mahal. Namun, harga perlu turun agar bahan bakar tersebut tetap terjangkau.
Krisis ini terjadi di tengah peran Pakistan sebagai mediator dalam perundingan antara pihak-pihak yang bertikai di Timur Tengah, dengan Washington mengindikasikan putaran negosiasi berikutnya kemungkinan juga akan digelar di negara tersebut.
Sementara itu, Islamabad juga tengah berupaya menstabilkan kondisi keuangannya dengan memperkuat cadangan devisa. Pada Rabu (15/4), pemerintah menyatakan telah memperoleh dukungan finansial sebesar USD 3 miliar dari Arab Saudi, yang dapat membantu menutup kewajiban pembayaran pinjaman kepada Uni Emirat Arab.
