Kumparan Logo

Perbandingan Nilai Investasi Whoosh dengan Kereta Cepat Arab Saudi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali ke Jakarta naik Whoosh usai melakukan kunjungan kerja di Jawa Barat, Kamis (7/8/2025). Foto: Dok. Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali ke Jakarta naik Whoosh usai melakukan kunjungan kerja di Jawa Barat, Kamis (7/8/2025). Foto: Dok. Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden

Nilai investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh lebih besar dibanding proyek jaringan kereta cepat Saudi Land Bridge yang akan digarap Arab Saudi. Padahal, jarak proyek Whoosh jauh lebih pendek dibanding Saudi Land Bridge.

Panjang trayek Whoosh tercatat ada pada 142,3 km dari Jakarta hingga Bandung, sementara Saudi Land Bridge yang akan menghubungkan Laut Merah di Jeddah dengan Teluk Arab di Dammam melalui ibu kota Riyadh memiliki panjang hingga 1.500 km.

Meski demikian, angka investasi untuk proyek Whoosh mencapai USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120,6 triliun (kurs Rp 16.602 per dolar AS). Angka itu lebih besar ketimbang nilai investasi Saudi Land Bridge yang senilai USD 7 miliar atau sekitar Rp 116,2 triliun (kurs Rp 16.602 per dolar AS).

Arab Saudi garap proyek kereta cepat. Foto: Dok. Daleel

Mengutip Daleel, nantinya Saudi Land Bridge dapat memangkas waktu perjalanan antara Riyadh dan Jeddah dari sekitar 12 jam perjalanan darat menjadi kurang dari empat jam dengan kereta cepat. Proyek itu juga menjadi bagian dari Saudi Vision 2030.

Terkait nilai investasi Whoosh, angka USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120,6 triliun sudah termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) senilai USD 1,2 miliar atau Rp 19,8 triliun. Dengan begitu, kini PT KAI yang merupakan ketua konsorsium BUMN dalam proyek tersebut, memiliki beban utang Rp 6,9 triliun dari China Bank Development (CDB) untuk pembayaran pembengkakan biaya proyek Whoosh.

Purbaya Tolak Bayar Utang Whoosh Pakai APBN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Untuk mekanisme pembayaran beban utang Whoosh, sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menolak penggunaan APBN. Hal ini karena Purbaya menilai utang tersebut berada di bawah pengelolaan Danantara.

Selain itu, sejak Maret 2025, negara tak lagi menerima setoran dividen BUMN, karena dialihkan ke Danantara.

“Yang jelas saya sekarang belum dihubungi. Kalau di bawah Danantara mereka kan sudah manajemen sendiri, punya dividen sendiri yang rata-rata bisa (Rp) 80 triliun lebih, harusnya mereka sudah di situ jangan di kita lagi (Kemenkeu),” ujar Purbaya secara daring dalam Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Jawa Barat, Minggu (12/10).

Menambahkan, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Suminto, juga mengatakan bahwa utang tersebut tak ada di bawah pemerintah karena proyek tersebut dikerjakan oleh PT KAI dan konsorsium BUMN yang diketuainya.

Restrukturisasi utang Whoosh ada dalam salah satu dari 22 program kerja strategis yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 Danantara. Adapun opsi mengenai skema restrukturisasi utang KCJB yang disiapkan Danantara adalah penambahan ekuitas dan menyerahkan beberapa infrastruktur KCJB kepada pemerintah untuk nantinya dijadikan sebagai Badan Layanan Umum (BLU).