Pertama dalam 4 Tahun, Kereta MRT Jakarta Turun Mesin
·waktu baca 3 menit

Untuk pertama kalinya dalam 4 tahun, kereta MRT Jakarta menjalani turun mesin sebagai bagian dari pemeriksaan menyeluruh atau overhaul dan perawatan rutin. MRT Jakarta memang dioperasikan sejak 2019, namun keretanya sendiri sudah tiba sejak 2018 atau 4 tahun lalu.
Dikutip dari laman resmi MRT Jakarta, perawatan menyeluruh yang dilakukan sesuai dengan manual dan panduan dari Nippon Sharyo. Langkah ini juga sesuai dengan Sistem Prosedur Perawatan Sarana yang disahkan oleh Kementerian Perhubungan RI.
Kegiatan pemeriksaan yang dilakukan di area Depo Lebak Bulus, Jakarta Selatan tersebut, sebagai bagian menjaga keandalan layanan kereta MRT Jakarta.
Perawatan akhir yang dilakukan secara rutin setiap empat tahun sekali ini meliputi pemeriksaan kondisi kereta seperti pembersihan dan pencucian, pengetesan dan penggantian pelumas bogie, perawatan dan pengetesan sistem kelistrikan, serta pengecekan sistem pengereman.
“Ibaratnya, overhaul itu pekerjaan turun mesin yang membongkar dan memeriksa secara saksama,” demikian dinyatakan di laman resmi PT MRT Jakarta, Rabu (23/2).
Dalam melakukan perawatan akhir ini, tim pemeliharaan kereta mengikuti manual perawatan Nippon Sharyo yang terdiri dari 8.000 halaman dan dianalisis. Setelah itu disederhanakan oleh Tenaga Ahli dari operator JR East, Jepang menjadi dokumen 17 halaman yang menggambarkan jenis komponen kereta dan lebih dari 400 jenis pekerjaan yang harus dilakukan.
Bagi Perseroan, ini merupakan kegiatan overhaul pertama sekaligus transfer pengetahuan dan keterampilan bagi SDM PT MRT Jakarta. Meski pekerjaan overhaul ini mendapatkan pendampingan dari 15 tenaga ahli operator JR East, Jepang, JRTM, dan JIC, terdapat sejumlah tantangan seperti kondisi pandemi COVID-19 yang membatasi mobilitas dan mobilisasi jumlah personel dalam pelaksanaan kegiatan.
“Target tinggi hasil pekerjaan yang merujuk kepada kualitas standar JR East, Jepang, menjadi tantangan tersendiri bagi SDM PT MRT Jakarta yang baru pertama kali mengerjakan pekerjaan overhaul kereta otomatis,” tulis keterangan dari MRT Jakarta.
Sistem mekanikal dan propulsi kereta otomatis ratangga secara umum mengacu kepada kereta di Jepang. Peralatan yang digunakan oleh tim perawatan kereta MRT Jakarta juga mengadopsi jenis peralatan workshop Moriya Depot Tsukuba Express. Penggunaannya, termasuk peralatan persinyalan otomatis, akan ada alih pengetahuan dan keterampilan dari tim JR East, JRTM, dan JIC, Jepang.
PT MRT Jakarta memiliki 16 rangkaian kereta atau 96 unit cars yang akan dioverhaul hingga 2023 mendatang. Proses perawatan ini tidak akan mengganggu jadwal operasional sehingga masyarakat dapat terus menikmati layanan MRT Jakarta seperti biasa. Pendokumentasian kegiatan overhaul juga perlu dilaksanakan agar PT MRT Jakarta memiliki arsip pengetahuan dan keterampilan sebagai sumber pembelajaran bagi sumber daya manusia bukan hanya PT MRT Jakarta, tetapi juga industri perkeretaapian di Indonesia.
Kereta MRT Jakarta merupakan kereta buatan perusahaan Nippon Sharyo, Jepang. Didominasi warna biru dan abu-abu metalik, satu kereta memiliki panjang hingga 20 meter dengan berat kosong mencapai 31 sampai 35 ton. Satu kereta berkapasitas 332 orang dengan tempat duduk menggunakan bahan fiber reinforced plastic yang tahan api.
Jendela kereta juga dibuat dengan bahan safety glasses yang menyerap panas. Setiap kereta MRT Jakarta dilengkapi dengan pengatur suhu ruangan, dua kamera pengawas (CCTV), layar informasi, intercom, tuas darurat pembuka pintu, alat pemadam api ringan, dan lain-lain.
