PERTASTREAM, Inovasi Anak Bangsa Menjaga 22 Ribu Km Pipa Gas Indonesia
·waktu baca 4 menit

Infrastruktur pipa gas Indonesia membentang sekitar 22 ribu kilometer, menjadikannya salah satu jaringan terbesar di Asia Tenggara. Jaringan yang meliputi jalur transmisi, distribusi, hingga jaringan gas rumah tangga ini adalah urat nadi ketahanan energi nasional.
Menurut data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, pada 2024 pemanfaatan gas domestik mencapai 68,8 persen atau setara 3.867 BBTUD. Porsi terbesar disalurkan untuk industri (40,4 persen), sisanya ke sektor pupuk, kelistrikan, hingga rumah tangga melalui jaringan gas kota dan bahan bakar gas transportasi. Angka ini menunjukkan vitalnya jaringan pipa gas nasional dalam menopang kebutuhan energi sehari-hari.
Di sisi hulu, dengan realisasi lifting gas sebesar 970 ribu BOEPD pada 2024 dan investasi migas yang mencapai USD 17,4 miliar, reliabilitas jaringan pipa menjadi krusial. Gangguan kecil berpotensi menimbulkan kerugian besar, bukan hanya secara ekonomi, tapi juga terhadap penerimaan negara yang tahun lalu mencapai Rp 120,2 triliun dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas.
Untuk menjaganya pipa tersebut, PT Elnusa Tbk (ELSA), bagian dari Subholding Upstream Pertamina, bersama PT Pertamina (Persero), bersama PT Pindad (Persero) membuat PERTASTREAM, sistem inspeksi pipa berbasis ultrasonik karya anak bangsa.
PERTASTREAM diluncurkan di fasilitas PT Elnusa Fabrikasi Konstruksi (EFK) Merak, Banten, Rabu (20/8). Direktur Utama Elnusa, Direktur Utama Elnusa, Bachtiar Soeria Atmadja, mmenjelaskan sistem ini berfungsi melakukan in-line inspection pada pipa gas menggunakan gelombang ultrasonik berfrekuensi tinggi untuk mendeteksi potensi kerusakan, seperti korosi, retakan, atau deformasi secara real-time. Keunggulannya, alat ini mampu bekerja tanpa menghentikan aliran gas, sehingga lebih efisien dan hemat biaya.
PERTASTREAM bukan hanya solusi teknis, tetapi simbol kemandirian kolaborasi dalam membangun masa depan energi Indonesia yang berkelanjutan," kata Bachtiar saat peluncuran.
Dia menjelaskan inovasi ini menjadi penting mengingat pipa gas Indonesia terbentang di berbagai pulau besar, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Koridor-koridor utama mencakup jaringan South Sumatra–West Java (SSWJ) sepanjang lebih dari 1.100 km, Cisem (Cirebon–Semarang) sekitar 245 km, serta rencana jalur strategis Dumai–Sei Mangkei sepanjang 428 km. Semua jalur itu menopang pasokan gas ke industri, pembangkit listrik, hingga rumah tangga.
Menurut data Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas), total panjang jaringan pipa gas Indonesia mencapai 22.538 km pada 2025, terdiri dari pipa transmisi ±5.370 km dan distribusi/jargas ±17.168 km. Bertambah panjang jika dibandingkan data WorldAtlas (21 ribu km) yang menempatkan Indonesia urutan ke-18 dunia, sejajar dengan negara-negara penghasil energi besar lainnya.
Namun, panjang jaringan ini juga menghadirkan tantangan besar. Banyak pipa yang sudah berusia puluhan tahun dan rentan terhadap kebocoran maupun gangguan teknis. Jika tidak ditangani dengan sistem monitoring modern, ancamannya bukan hanya kerugian ekonomi, tetapi juga risiko keselamatan masyarakat dan terganggunya pasokan energi.
PERTASTREAM hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut. Teknologi ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk menganalisis data hasil inspeksi.
"Dengan tingkat akurasi hingga 90 persen pada kecepatan 0,1–1 meter per detik, teknologi ini mampu mengenali retakan kompleks seperti stress corrosion cracking (SCC), sekaligus mengolah data dalam jumlah besar dengan kualitas sinyal optimal," katanya.
Selama ini, peralatan inspeksi pipa di Indonesia sebagian besar masih impor dengan harga tinggi dan proses pengadaan yang panjang. Kehadiran PERTASTREAM menandai titik balik penting: Indonesia kini mampu menghadirkan alat inspeksi pipa buatan sendiri, mengurangi ketergantungan luar negeri sekaligus menghemat devisa.
Kolaborasi dengan PT Pindad sebagai mitra strategis semakin memperkuat posisi teknologi ini. Pindad berpengalaman dalam rekayasa manufaktur pertahanan, sementara Elnusa memiliki spesialisasi dalam jasa migas terintegrasi.
TKDN, Kemandirian Energi dari Hulu hingga Hilir
Salah satu nilai tambah PERTASTREAM adalah kontribusinya terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Elnusa menegaskan, sebagian besar komponen dalam sistem ini diproduksi di dalam negeri, dengan melibatkan manufaktur lokal dan talenta Indonesia. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah meningkatkan TKDN sektor migas ke kisaran 40–50 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam laporan keuangan 2024, Elnusa menekankan penerapan TKDN sebagai strategi kunci di setiap lini bisnisnya, termasuk jasa operasi pipa dan logistik energi. Komitmen ini bukan hanya untuk memenuhi regulasi, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi biaya dan memperkuat daya saing industri nasional.
Pengamat energi Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menilai keberhasilan Elnusa–Pindad mengembangkan alat ILI UT sebagai pencapaian penting. “TKDN bukan hanya angka formal, melainkan simbol kemandirian bangsa. Jika PERTASTREAM diadopsi secara luas, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar daripada sekadar penghematan impor,” katanya.
TKDN PERTASTREAM sekaligus menunjukkan BUMN mampu berinovasi tanpa harus bergantung penuh pada teknologi asing. Produk ini dirancang sesuai standar internasional, tetapi dikembangkan di tanah air, menciptakan multiplier effect berupa penciptaan lapangan kerja dan transfer teknologi ke industri lokal.
Lebih dari itu, potensi ekspor PERTASTREAM ke negara-negara dengan jaringan pipa gas serupa, khususnya Asia Tenggara, terbuka lebar. Dengan begitu, inovasi ini tidak hanya mendukung kemandirian energi nasional, tetapi juga membuka peluang devisa baru bagi Indonesia.
