Kumparan Logo

Pesona Xinjiang, Tarik 200 Juta Wisatawan Setahun

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lukisan pemandangan pegunungan dan ranch domba di Nenshan. Foto: Arifin Asydhad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Lukisan pemandangan pegunungan dan ranch domba di Nenshan. Foto: Arifin Asydhad/kumparan

Provinsi Xinjiang, China yang bergurun dan jauh dari lautan ternyata memiliki pemandangan yang indah. Banyak destinasi wisata yang menarik, apalagi di musim semi. Tahun 2019 ini 200 juta wisatawan berkunjung ke provinsi ini. Luar biasa!

Destinasi-destinasi wisata Xinjiang selama ini kurang terekspos. Bila selama ini Xinjiang diperbincangkan publik, bukan karena soal wisata, tapi lebih ke persoalan kaum muslim Uighur yang diduga terkekang dan terzalimi. Meski berkali-kali pemerintah China membantah, namun isu-isu miring tentang etnis Uighur terus menerus muncul ketika menyinggung Xinjiang.

Dalam kunjungan ke Kota Urumqi, ibukota Provinsi Xinjiang, selama dua hari, (15-16/11), rombongan Presiden Direktur Adaro Energy Boy Thohir bersama sejumlah pemimpin media asal Indonesia, sempat bertemu Wakil Gubernur Xinjiang Arken Tuniyazi. Pertemuan berlangsung selama 3 jam di kantornya, diselingi dengan makan malam bersama.

Bertemu Wakil Gubernur Xinjiang Arken Tuniyazi. Foto: Arifin Asydhad

Dalam pertemuan itu, didapat informasi Xinjiang menyimpan surga wisata yang luar biasa. Xinjiang, menurut Arken, sudah terukir dalam sejarah dunia selama berabad-abad. Sebab, Xinjiang, yang terletak di bagian utara China ini, termasuk salah satu jalur sutra (silk road) kuno. Xinjiang menjadi jendela keterbukaan bagi dunia barat.

Untuk mengenal Xinjiang, Arken menyampaikan 10 fakta yang perlu diketahui.

Salah satu pegunungan di Xinjiang saat musim semi. Foto: Arifin Asydhad/kumparan

Pertama, Provinsi yang resmi bernama Provinsi Otonomi Uighur Xinjiang ini memiliki wilayah yang sangat luas: 1,66 juta km persegi. Setara denga seperenam wilayah China. Xinjiang menjadi provinsi terbesar di China. Provinsi Xinjiang hampir sama dengan luas daratan Indonesia, 1,9 juta km persegi.

Kedua, Xinjiang memiliki garis batas yang sangat panjang:  5.700 km dan berbatasan dengan beberapa negara seperti Rusia, Kazakhstan, Tajikistan, Kirgizstan, India, Pakistan, Afghanistan, dan Mongolia.

Zhaousu, tempat ranck peternakan kuda. Foto: Arifin Asydhad/kumparan

Ketiga, Xinjiang memiliki banyak gurun, pegunungan dan sungai yang indah. Ada 3 pegunungan dan dua cekungan di Xinjiang. Gunung-gunung yang menghimpit Xinjiang di selatan adalah Kunlun, di tengah yaitu Tian Shan, di utara ialah Altai. Dua cekungannya yakni Tarim di selatan dan Dzungaria di utara. Karena geografisnya ini, Xinjiang memiliki pemandangan yang indah. Setidaknya ada 369 destinasi wisata cantik yang sering dikunjungi wisatawan.

Keempat, Xinjiang memiliki sumberdaya berlimpah, seperti pertanian, peternakan, air, air panas, dan juga pertambangan. Xinjiang menjadi salah satu pusat pertanian dan peternakan. Wajar kalau sayur-sayuran, buah-buahan dan daging (terutama domba) melimpah. Salah satu makanan khas Xinjiang adalah sate domba. Juga banyak peternakan kuda. Sementara pertambangan setidaknya ada 27 pertambangan, termasuk pertambangan batubara dan gas.

Kelima, Xinjiang sejak 2000 tahun lalu menjadi tempat penting bagi perkembangan China. Saat Era Dinasti Han, Xinjiang menjadi salah satu markas pertahanan untuk wilayah barat.

Pemandangan salah satu pegunungan di Xinjiang. Foto: Arifin Asydhad/kumparan

Keenam, China memiliki 56 etnis, 13 etnis di antaranya ada di Xinjiang. Total penduduk Xinjiang saat ini 25 juta jiwa yang terdiri dari 46 persen etnis Uighur, 40 persen etnis Han, sisanya etnis-etnis lain. Beberapa puluh tahun lalu, jumlah etnis Uighur di Xinjiang sempat mencapai sekitar 90 persen.

Ketujuh, Penduduk Xinjiang merupakan penduduk multi agama, seperti Islam, Buddha, Tao, dan Kristen. Saat ini mayoritas penduduk Xinjiang beragama Islam.

Kedelapan, karena multietnis, maka Xinjiang memiliki kebudayaan yang beragam. Kebudayaan dan kesenian asli dari Uighur juga masih dipertahankan.

Kesembilan, Tingkat kemiskinan penduduk Xinjiang cukup tinggi. Karena itu, Pemerintah Xinjiang terus melakukan pengentasan kemiskinan, terutama untuk penduduk di sebelah selatan. Tahun ini telah dientaskan 50.000 penduduk miskin.

Kesepuluh, beberapa waktu lalu Xinjiang menjadi wilayah yang paling banyak terjadi aksi terorisme dan ekstremisme. Akhirnya, berdasarkan permintaan warga, pemerintah membuat Badan Anti Terorisme untuk menyiapkan lingkungan yang aman.

Salah satu yang dilakukan untuk mengantisipasi terorisme dan ekstremisme, kata Arken, pemerintah membentuk lembaga pendidikan vokasi.

“Di lembaga vokasi, kami mengajarkan pengetahuan agama dan konstitusi, agar masyarakat bisa hidup damai dan normal,” kata dia.

Presiden Direktur Adaro, Boy Thohir berbincang dengan Wakil Gubernur Xinjiang Arken Tuniyazi dengan latar belakang lukisan salah satu destinasi wisata. Foto: Arifin Asydhad/kumparan

Arken juga menjelaskan mengenai kondisi ekonomi Xinjiang.

“GDP kami 6,1 persen. Penghasilan penduduk desa meningkat 9,8 persen dan penduduk kota meningkat 6 persen,” kata Arken.

Pertumbuhan ekonomi Xinjiang disumbang secara signifikan oleh industri pariwisata yang semakin pesat.

“Tahun lalu (2018) turis yang datang sekitar 150 juta. Tumbuh 50 persen dibanding 2017. Sedangkan tahun ini dari Januari-Oktober, sudah ada 200 juta turis yang datang ke sini, tumbuh lebih dari 62 persen,” tegas dia.

Namun Arken tidak merinci berapa persen wisatawan asing dari jumlah tersebut. Saat ditanya apa kunci sukses pertumbuhan pesat industri pariwisata Xinjiang, Arken mengatakan ada tiga. Pertama, Xinjiang memiliki alam dan pemandangan yang sangat indah. Kedua, stabilitas keamanan.

“Tiga tahun terakhir tidak ada aksi terorisme, sehingga wisatawan merasa aman datang ke sini,” kata dia.

Ketiga, masuknya investasi dari negara-negara lain ke Xinjiang yang memperkuat industri pariwisata. Hotel-hotel berbintang tumbuh, begitu juga industri makanan-minuman dan industri lain yang terkait dengan pariwisata.

Terkait dengan Indonesia, Arken merasa hubungan Indonesia dan China saat ini semakin baik. Presiden Xi Jinping sudah melawat ke Indonesia, begitu juga dengan Presiden Jokowi sudah melawat ke China.

“Saya berharap kerjasama kedua negara akan terus semakin baik,” ujar Arken.