Peternak Minta Pemerintah Kurangi Impor Bibit Ayam

Kementerian Pertanian mengkaji alokasi impor bibit indukan ayam (Grand Parent Stock/GPS) bersama peternak unggas di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (26/8).
Bibit indukan ayam nantinya akan menghasilkan final stock atau ayam yang dipelihara peternak untuk menghasilkan daging dan telur. Dari catatan Kementan, tahun ini alokasi impor bibit GPS ditargetkan 787.000 ekor.
Ketua Gabungan Perusahaan Perunggasan (GPPU), Achmad Dawami, mengatakan saat ini produksi bibit FS kelebihan sebanyak 3 juta ekor per minggu atau sebanyak 12 juta ekor per bulan.
"Menurut saya (kebutuhan) antara 58-60 juta ekor ayam per minggu. Kalau per bulan kalikan empat. Sekarang ini produksi per minggu kelebihan 3 juta," katanya di Gedung Kementan, Jakarta Selatan, Senin (26/8).
Menurut Achmad, pada tahun lalu pemerintah impor GPS sebanyak 707.000 ekor. Untuk itu, pihaknya meminta agar keran impor bibit GPS pada tahun ini tidak lebih dari 720.000 ekor.
"Kalau peternak ya jangan lebih dari 720 ribu. Jangan (impor) terlalu banyak sekali," ujarnya.
Achmad enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai dampak dari tingginya impor bibit GPS terhadap industri peternakan. Hanya saja, kata dia, kebutuhan impor tahun ini akan berdampak pada produksi FS dalam dua tahun kedepan.
"GPS nanti baru 7-8 bulan, baru jadi PS (parent stock). PS 7-8 bulan lagi jadi FS. Kalau FS dibiarkan 1,5 bulan baru jadi (pedaging atau petelur) kira-kira," imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Sugiono, menegaskan hingga kini belum ada keputusan yang pasti berapa alokasi kebutuhan impor bibit GPS pada tahun ini.
Dia mengaku masih menghitung berapa kebutuhan impor bibit GPS pada tahun ini. "Masih dihitung," katanya.
