PHRI Dorong Pemerintah Terapkan Travel Bubble untuk Selamatkan Pariwisata Bali

8 September 2020 15:41
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Petugas mengatur jarak kasur pantai di salah satu 'beach club' yang terletak di kawasan Pantai Melasti, Badung, Bali. Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas mengatur jarak kasur pantai di salah satu 'beach club' yang terletak di kawasan Pantai Melasti, Badung, Bali. Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) melaporkan pariwisata di Pulau Bali kini dalam kondisi terpuruk. Di tutupnya akses wisatawan mancanegara membuat banyak hotel dan restoran terpaksa tutup.
ADVERTISEMENT
Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, berharap pemerintah melakukan travel bubble, yakni kesepakatan antara dua negara atau lebih, yang berhasil mengontrol virus corona untuk menciptakan gelembung atau koridor perjalanan.
"Bali perlu travel bubble," kata Maulana dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, Selasa (8/9).
Gelembung ini akan memudahkan penduduk yang tinggal di dalamnya melakukan perjalanan secara bebas, dan menghindari kewajiban karantina mandiri.
Langkah tersebut juga dinilai bisa memudahkan masyarakat agar bisa melintasi perbatasan dengan kerumitan yang minimum.
Dengan demikian, wisatawan mancanegara bisa kembali berkunjung ke Bali sehingga industri hotel dan restoran bisa diselamatkan. Sebab menurut Maulana, selama ini okupansi hotel di Bali sangat ditopang wisman.
Dua orang wisatawan mancanegara berada di kawasan Pantai Seminyak yang masih ditutup dari kunjungan wisatawan di Badung, Bali. Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Dua orang wisatawan mancanegara berada di kawasan Pantai Seminyak yang masih ditutup dari kunjungan wisatawan di Badung, Bali. Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
Apalagi di Bali banyak terdapat hotel dan restoran bintang lima, yang pangsa pasarnya wisatawan asing. Menurut Maulana, rata-rata tingkat okupansi hotel di Bali selama ini hanya 50 persen.
ADVERTISEMENT
Dari angka tersebut, 25 persennya merupakan dari wisatawan asing. Sayangnya porsi tersebut tidak bisa digantikan oleh wisawatan domestik.
"Enggak mungkin digeser wisatawan domestik. Kami menganjurkan travel bubble, G to G untuk bantu okupansi. Kalau enggak, bisnisnya hancur. Enggak akan mungkin domestik kuat membantu Bali. (Wisatawan domestik) paling tinggi hanya 20 persen," ujarnya.