Populer: Anggaran BGN Dipangkas Rp 38 T; Amran Minta BGN Serap Telur

Pemangkasan anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) sebesar Rp 38 triliun menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Jumat (9/10). Selain itu, ada pula instruksi Mentan Amran Sulaiman agar BGN meningkatkan penyerapan telur lokal demi menjaga stabilitas harga peternak.
Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Anggaran BGN Dipangkas Rp 38 T, Kini Tersisa Rp 229 T
Kementerian Keuangan melakukan langkah efisiensi anggaran terhadap Badan Gizi Nasional (BGN). Kebijakan ini berimplikasi pada penurunan pagu anggaran BGN untuk tahun 2026 sebesar Rp 38 triliun, dari proyeksi awal senilai Rp 268 triliun kini menyusut menjadi Rp 229 triliun. Pemotongan ini dinilai sebagai bagian dari reformasi struktural guna mengoptimalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Efisiensi anggaran ini difokuskan pada perbaikan tata kelola, mulai dari pemenuhan standardisasi sanitasi hingga penajaman segmentasi penerima manfaat agar program lebih tepat sasaran. Berdasarkan data realisasi fiskal, anggaran untuk program MBG hingga September 2026 telah terserap sebesar Rp 153,2 triliun yang dialokasikan untuk menyokong kebutuhan 57 juta penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia.
Kerek Harga Telur, Amran Minta BGN Serap 3 Kali Seminggu
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menginstruksikan percepatan penyerapan produksi telur oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dengan meningkatkan frekuensi konsumsi menjadi tiga kali seminggu. Langkah strategis ini diambil sebagai intervensi pasar jangka pendek untuk meredam tren penurunan harga telur yang saat ini sedang menekan profitabilitas para peternak lokal di tingkat produsen.
Dalam ekosistem ketahanan pangan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) diposisikan sebagai penjamin penyerapan hasil panen (offtaker) yang mengintegrasikan pasokan dari koperasi dan peternak rakyat secara langsung dengan rantai distribusi program pemerintah. Kebijakan akselerasi penyerapan ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan baru pada kurva penawaran dan permintaan (supply and demand), sehingga harga komoditas telur di pasar domestik dapat kembali stabil dan menguntungkan peternak.
