Kumparan Logo

Populer: Grup Salim Suntik Modal ke KFC Rp 80 M; Alfamart Akuisisi Lawson

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi gerai KFC. Foto: Arif Prabawa/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gerai KFC. Foto: Arif Prabawa/Shutterstock

Kabar mengenai KFC di Indonesia yang meminta tambahan modal dari dua pemegang saham utamanya, yaitu Gelael dan Grup Salim, menjadi salah satu berita populer sepanjang Kamis (15/5).

Selain itu, terdapat juga raksasa ritel Alfamart yang telah mengakuisisi kepemilikan saham Lawson Indonesia. Berikut ringkasannya:

KFC di Indonesia Meminta Tambahan Modal dari Grup Salim

Melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), PT Fast Food Indonesia Tbk, pemegang lisensi waralaba restoran cepat saji KFC di Indonesia, meminta tambahan modal dari Gelael dan Grup Salim.

Aksi private placement ini bertujuan untuk memperbaiki struktur keuangan perusahaan. Emiten dengan kode FAST akan menerbitkan hingga 533.333.334 saham baru pada harga pelaksanaan Rp 150 per saham.

Total dana yang ditargetkan dari penerbitan saham ini sebesar Rp 80 miliar, sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja, dengan alokasi Rp 52 miliar untuk pengadaan persediaan dan pelunasan kewajiban jangka pendek, serta Rp 28 miliar dialokasikan untuk mendukung efisiensi operasional melalui pengelolaan biaya karyawan.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen FAST menyatakan langkah ini diambil untuk menambal defisit modal kerja bersih yang saat ini mencatat angka negatif Rp 1,67 miliar, serta menghadapi kondisi keuangan. Adapun total pendapatan perusahaan turun ke Rp 4,87 triliun pada 2024 dari Rp 5,93 triliun pada tahun sebelumnya.

Selain itu, jumlah gerai yang dioperasikan berkurang 47 gerai dari 762 gerai pada 2023 menjadi 715 gerai pada 2024 dan liabilitas perusahaan tercatat mencapai 96 persen dari total aset.

Dua pemegang saham utama, PT Gelael Pratama dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) milik Grup Salim, akan menyerap sebagian besar saham baru.

Setelah aksi korporasi ini rampung, kepemilikan saham Gelael naik dari 40 persen menjadi 41,18 persen, dan Salim dari 35,84 persen menjadi 37,51 persen.

Ilustrasi minimarket Lawson. Foto: Shutterstock

Alfamart Akuisisi Lawson

Raksasa ritel Alfamart melalui PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) telah mengakuisisi kepemilikan saham Lawson Indonesia, jaringan convenience store asal Jepang, dari PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI).

AMRT membeli 1.484.855.160 lembar saham PT Lancar Wiguna Sejahtera, perusahaan pengelola Lawson Indonesia dari MIDI.

Pengambilalihan saham ini senilai Rp 200,45 miliar atau setara 135 per lembar saham. Aksi korporasi ini diumumkan lewat keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu 14 Mei 2025.

Corporate Secretary AMRT, Tomin Widian, mengatakan transaksi ini bukan merupakan benturan kepentingan. Sehingga tidak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagaimana diatur dalam POJK 42/2020, serta tidak termasuk transaksi material sebagaimana diatur dalam POJK 17/2020.