Posko Nataru Sektor ESDM Ditutup, Konsumsi Bensin Naik Tipis 0,9 Persen
·waktu baca 4 menit

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menutup Posko Nasional Sektor ESDM Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) yang berlangsung sejak 15 Desember 2025 sampai 5 Januari 2026. Konsumsi BBM jenis gasoline atau bensin hanya naik tipis 0,9 persen dari kondisi normal.
Anggota Komite BPH Migas sekaligus Ketua Satgas Nataru Sektor ESDM, Erika Retnowati, mengatakan ketersediaan BBM selama Posko Nataru dalam kondisi aman dengan Coverage Day dapat dipertahankan sekitar 16-35 hari.
"Secara keseluruhan, terdapat kenaikan dan penurunan penyaluran BBM terhadap rerata normal sebagai berikut, untuk gasoline meningkat sebesar 0,9 persen, gasoil turun 3,4 persen, kerosin turun 6,2 persen, dan avtur meningkat 5,5 persen," ungkap Erika saat konferensi pers, Senin (5/1).
Erika melanjutkan, khusus untuk kawasan bencana di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, penyaluran BBM kepada masyarakat tetap dilakukan secara optimal, termasuk pendistribusian BBM melalui udara.
BPH Migas mencatat jumlah penyalur yang telah beroperasi kembali dari dampak bencana di Sumatera Utara yakni sebanyak 406 SPBU atau pulih 100 persen, lalu di Sumatera Barat 147 SPBU atau pulih 100 persen, sementara di Aceh 151 dari 156 SPBU atau pulih 97 persen.
Erika melanjutkan, untuk sektor LPG, penyalurannya dalam kondisi aman. Coverage day stok LPG secara nasional berkisar antara 10 sampai 16 hari dengan rata-rata 12,8 hari.
"Rerata penyaluran LPG pada periode Satgas Natal 2025 dan tahun baru 2026 mengalami kenaikan sebesar 10,6 persen dari penjualan normal," lanjutnya.
Kemudian untuk sektor gas bumi, Erika memastikan secara umum tidak mengalami kendala dan dalam keadaan aman. Penyaluran niaga gas rata-rata pada periode Nataru 2026 meningkat sebesar 4,3 persen dibandingkan dengan realisasi Nataru 2024.
Selain terdapat fenomena bencana di Sumatera, penyaluran gas bumi juga terdampak kepocoran pipa gas pada 2 Januari PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di Inderagiri Hilir, Riau, yang saat ini tengah diperbaiki dan ditargetkan dapat beroperasi pada 7 Januari 2026.
Selanjutnya, operasi sistem dan penyediaan pasokan tenaga listrik juga pada kondisi aman. Daya mampu pasok tertinggi terjadi pada 15 Desember 2025 dan terendah pada 28 Desember 2025.
"Sedangkan beban puncak untuk tenaga listrik nasional pada periode posko hari natal 2025 dan tahun baru 2026, tertinggi terjadi pada 17 Desember 2025 dan beban puncak terendah terjadi pada 1 Januari 2026," jelas Erika.
Sementara sektor kebencanaan geologi yakni terdapat satu gunung api dengan status awas yaitu Gunung Lewotobi Laki-Laki, dua gunung api dengan status siaga yaitu Gunung Merapi dan Gunung Semeru, serta 24 gunung api dengan status waspada. Lalu gerakan tanah selama masa posko terdapat 82 kejadian gerakan tanah pada 17 provinsi, dan gempa bumi tercatat 10 kejadian dengan magnitudo di atas 5.
Kenaikan Konsumsi Bensin Moderat
Erika menjelaskan kenaikan konsumsi BBM yang moderat selama masa liburan Nataru 2026 utamanya karena kenaikan mobilitas masyarakat menggunakan transportasi umum.
"Perkiraannya adalah banyak masyarakat yang menggunakan angkutan umum, itu yang kita hitung kan mobil-mobil pribadi, kalau kita lihat dari kenaikan avtur itu kan tinggi ya 5,5 persen. Kemudian juga kereta api juga dipenuhi oleh penumpang," ungkapnya.
Selain itu, dia juga melihat ada kenaikan penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), menjadi salah satu alasan mengapa konsumsi bensin masyarakat tidak melonjak pada akhir tahun 2025.
"Karena kalau kita lihat peningkatan transaksi di SPKLU itu juga sangat tinggi, kalau gak salah sekitar 5 kali dari tahun lalu," ungkap Erika.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo, mengatakan pertumbuhan konsumsi bensin selama Nataru 2026 sebesar 0,9 persen itu dibandingkan penjualan normal pada Oktober-November 2025.
"Memang ada tren kenaikan, tapi tidak besar dibanding Oktober-November. Tapi kalau dibanding dengan Desember tahun lalu, kenaikannya cukup lumayan sekitar 2 persen," katanya.
Ega menjelaskan alasan utama kenaikannya moderat karena kenaikan penggunaan angkutan umum yang cukup signifikan, terutama penerbangan udara terlihat dari konsumsi avtur,
"Selain EV, sebetulnya juga kami melihat peningkatan penjualan kendaraan hybrid. Kendaraan hybrid ini fuel consumption-nya lebih irit dibanding yang non-hybrid. Ini juga menjadi faktor yang mempengaruhi dan penjualan hybrid sangat signifikan akhir-akhir ini," tutur Ega.
