Kumparan Logo

Produk Pertamina Renewable Diesel Bukti Dekarbonisasi Pertamina Mendunia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja di green refinary Cilacap, salah satu kilang milik Pertamina yang  menghasilkan BBM jenis Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau Green Diesel D100. Foto: Dok Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja di green refinary Cilacap, salah satu kilang milik Pertamina yang menghasilkan BBM jenis Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau Green Diesel D100. Foto: Dok Pertamina

Produk bahan bakar hijau unggulan Pertamina, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau Green Diesel D100, semakin diakui dunia. Produk ini merupakan substitusi bahan bakar diesel yang lebih ramah lingkungan, dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar kendaraan ataupun memproduksi listrik hijau melalui penggunaan di genset.

Produk bahan bakar hijau yang dihasilkan Green Refinery Cilacap tersebut, telah mendapatkan sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Melalui sertifikasi ISCC, Produk HVO Pertamina memperoleh pengakuan bahwa penggunaan produk ini berkontribusi pada penurunan emisi karbon hingga 65-70 persen dari bahan bakar umumnya, sehingga layak disebut sebagai green product.

Produk HVO dengan branding nama Pertamina Renewable Diesel (Pertamina RD), sebelumnya diluncurkan dan dipergunakan untuk mendukung pelaksanaan Jakarta E-Prix 2021. Green Refinery Cilacap punya kapasitas produksi untuk menghasilkan produk Green Diesel sebesar 3.000 barel per hari, dengan bahan baku nabati berupa Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO).

Kilang milik Pertamina di Cilacap sebagai kilang pemroses BBM ramah lingkungan (green refinary) jenis Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau Green Diesel D100. Foto: Dok. Pertamina

Saat ini, Pertamina Renewable Diesel telah dipasarkan dan diterima pasar Eropa, utamanya Jerman dan Prancis.

General Manager Kilang Cilacap di bawah PT Kilang Pertamina Internasional, Edy Januari Utama, mengatakan Pertamina terus memperkuat transisi energi bersih sejalan dengan komitmen Pertamina mengedepankan prinsip Environmental, Social, & Governance (ESG) di semua lini bisnis. Pertamina terus melakukan inovasi, dengan menekan emisi dari peralatan produksinya maupun menghasilkan produk-produk rendah emisi berbasis energi baru terbarukan.

Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Pertamina untuk melakukan dekarbonisasi pada bisnisnya demi menciptakan lingkungan yang semakin baik. Pertamina juga telah mencanangkan Roadmap Net Zero Emission, untuk memastikan komitmen upaya dekarbonisasi secara bertahap hingga dicapai target net zero emission di tahun 2060.

Roadmap Net Zero Emission merupakan salah satu bukti nyata- komitmen Pertamina dalam mendukung SDG’s atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan no. 13 mengenai penanganan perubahan iklim.

Pegawai Pertamina di salah satu kilang green refinary di Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Dok. Pertamina

"Pertamina berkomitmen meningkatkan kapasitas dan kemampuan Green Refinery Cilacap yang saat ini baru 2.500-3.000 barel per hari menjadi 6.000 barrel per hari dengan produk mencakup Green Diesel, Sustainable Aviation Fuel, dan Bionaphta," ujarnya saat menerima media visit di lokasi Green Refinery Kilang Pertamina Internasional Cilacap, Kamis (27/10).

Ia menambahkan, peningkatan kapasitas green energy tersebut sejalan dengan permintaan pasar dunia terhadap produk energi bersih dan sebagai bentuk keseriusan Pertamina untuk menerapkan strategi agresif di green business dalam roadmap net zero emission-nya. "Fleksibilitas bahan baku green energy juga akan semakin ditingkatkan sehingga tidak hanya mengolah berbasis CPO tetapi juga bisa mengolah bahan lain semisal Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah menjadi energi hijau," imbuhnya.

Pada fase kedua pengembangan Green Refinery Cilacap, selain fleksibilitas jenis produk, Pertamina juga telah merencanakan peningkatan kemampuan kilang dalam mengolah second generation renewable feedstock seperti minyak jelantah atau sejenisnya. Melalui langkah itu, kontribusi penurunan emisi produknya pun meningkat hingga 85-90 persen dibandingkan bahan bakar fosil.

Dalam pengumpulan minyak jelantah tersebut, akan dipelajari juga potensi pengimplementasian konsep circular economy yang berfokus pada peningkatan ekonomi masyarakat. Dengan begitu, keberadaan Green Refinery dapat memberikan manfaat positif bagi masyarakat selain energi yang lebih ramah lingkungan.