Produksi Beras Agustus-Oktober 2026 Diproyeksi Turun Jadi 9,33 Juta Ton

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat sepanjang Agustus hingga Oktober 2026 mencapai 9,33 juta ton. Angka tersebut turun tipis sebesar 0,09 juta ton atau 0,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ateng menjelaskan, penurunan produksi beras tersebut sejalan dengan proyeksi produksi pada yang mencapai 16,18 juta ton gabah kering giling (GKG) pada Agustus hingga Oktober 2026, atau mengalami penurunan sebesar 0,15 juta ton GKG atau penurunan sebesar 0,92 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.
“Potensi produksi beras pada kondisi Agustus sampai dengan Oktober 2026 diperkirakan mencapai 9,33 juta ton atau mengalami penurunan sebanyak 0,09 juta ton atau menurun 0,90 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/9).
Produksi beras pada Juli 2026 diproyeksi mencapai 2,74 juta ton, atau turun 0,99 persen dibandingkan Juli 2025, dengan produksi beras pada Januari hingga Oktober 2026 yang diperkirakan mencapai 31,41 juta ton, atau turun 0,08 persen jika dibandingkan pada periode yang sama.
Kondisi Lahan Masih Ditanami Padi Sekitar 36,27 Persen
Ia melanjutkan, mayoritas lahan pertanian di Indonesia berada dalam kondisi standing crop atau sedang ditanami padi, dengan porsi sekitar 36,27 persen. Adapun luas panen padi pada Juli 2026 diperkirakan mencapai 0,93 juta hektare, turun 1,05 persen dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 0,94 juta hektare.
“Maka potensi padi pada bulan Juli 2026 diperkirakan sebesar 4,75 juta ton GKG atau mengalami penurunan 1 persen dibandingkan dengan Juli tahun 2025,” lanjutnya.
Sementara itu, potensi luas panen padi pada periode Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 3,07 juta hektare. Atau mengalami penurunan seluas 0,04 juta hektare atau menurun sebesar 1,29 persen.
Sehingga, produksi padi periode Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 54,25 juta ton GKG atau turun 0,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Produksi Jagung Diperkirakan Meningkat pada Agustus-Oktober
Selanjutnya, Ateng menyampaikan perkembangan luas panen dan produksi jagung. Pada periode Juli 2026, luas panen jagung pipilan diperkirakan mencapai 0,23 juta hektare, lebih rendah dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 0,25 juta hektare.
Sementara itu, potensi luas panen jagung pipilan pada periode Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 0,68 juta hektare. Angka tersebut meningkat 0,03 juta hektare atau 4,03 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Dengan demikian, total luas panen jagung pipilan sepanjang Januari sampai dengan Oktober tahun 2026 diperkirakan mencapai 2,41 juta hektare atau mengalami peningkatan sebesar 0,02 juta hektare atau meningkat 0,64 persen,” jelasnya.
Ateng menekankan, potensi luas panen tersebut masih dapat mengalami perubahan karena bergantung pada kondisi terkini di lapangan. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi antara lain serangan hama dan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) serta kondisi lainnya selama periode pertanaman.
Sejalan dengan perkembangan luas panen, Ateng menyatakan produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada Juli 2026 diperkirakan mencapai 1,38 juta ton. Angka itu lebih rendah dibandingkan produksi pada Juli 2025 yang mencapai 1,48 juta ton.
Sementara itu, potensi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada periode Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 4,17 juta ton.
“Atau mengalami peningkatan sebesar 0,13 juta ton atau meningkat 3,22 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun yang lalu,” sebutnya.
Secara kumulatif, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang Januari hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 14,25 juta ton.
“(Angka tersebut) mengalami peningkatan sebanyak 0,18 juta ton atau naik 1,25 persen dibandingkan dengan bulan Januari sampai dengan Oktober tahun 2025,” imbuhnya.
