Purbaya Sebut RI Sudah Keluar dari Kutukan Ekonomi 5%, Begini Penjelasannya
·waktu baca 4 menit

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut pertumbuhan awal tahun 2026 ini sebagai tanda Indonesia mulai keluar dari kutukan pertumbuhan ekonomi 5 persen.
Dia optimistis ekonomi Indonesia kian melesat hingga akhir tahun ini.
“Jadi clear sekali kita sudah bisa terlepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen. Jadi ekonomi lagi bergerak ke arah yang lebih cepat lagi,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (5/5).
Purbaya turut memasang target lebih tinggi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini. Pemerintah dalam APBN 2026 mematok pertumbuhan ekonomi ada di level 5,4 persen.
“Tahun ini? Kalau di APBN kan 5,4. Saya akan dorong ke 6 persen. Kalau dapat 6 persen, saya akan minta hadiah ke presiden,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Sabtu (31/1) malam.
Dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang cenderung tertahan di kisaran 5 persen.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi dalam 10 tahun terakhir sebagai berikut:
Pernah Capai 6 Persen pada Zaman SBY
Padahal, pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ekonomi Indonesia sempat tumbuh lebih tinggi.
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen pada 2005, lalu meningkat menjadi 6,3 persen pada 2007 dan 6,1 persen pada 2008.
Meski sempat turun ke 4,6 persen akibat krisis keuangan global 2009, ekonomi Indonesia kembali bangkit menjadi 6,1 persen pada 2010 dan mencapai puncak 6,5 persen pada 2011.
Secara total, pada era SBY ekonomi Indonesia mampu tumbuh di atas 6 persen sebanyak lima kali.
5 Persen Belum Cukup
Meski terlihat cukup tinggi, sejumlah ekonom menilai pertumbuhan ekonomi di level 5 persen belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Manilet, mengatakan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I 2026 memang terlihat kuat, tetapi perlu dilihat lebih dalam dari sisi kualitasnya.
“Kalau faktor-faktor itu dikeluarkan, pertumbuhan dasarnya kemungkinan hanya di kisaran 5 persen. Artinya, ekonomi kita belum benar-benar berada di jalur pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan,” jelas Yusuf kepada kumparan, Rabu (6/5).
Menurut Yusuf, pertumbuhan ekonomi 5 persen dapat membuat kenaikan pendapatan masyarakat berjalan lambat. Dengan pertumbuhan penduduk yang masih mendekati 1 persen per tahun, kenaikan pendapatan per kapita riil Indonesia hanya sekitar 4 persen.
“Target Indonesia Emas 2045 yang mensyaratkan lonjakan pendapatan per kapita menjadi sulit dicapai kalau tidak ada akselerasi ke kisaran 6,5–7 persen,” ucapnya.
Yusuf menjelaskan, Indonesia juga menghadapi tantangan demografi. Ketika populasi mulai menua, beban fiskal meningkat dan pertumbuhan ekonomi biasanya melambat.
“Jadi ini bukan sekadar soal target pertumbuhan, tapi soal waktu,” sebut Yusuf.
Jika pertumbuhan ekonomi RI tertahan pada kisaran 5 persen, maka dampaknya cukup luas.
Pertama, kapasitas ekonomi tidak akan cukup besar untuk menopang ambisi sebagai kekuatan ekonomi utama. Kedua, daya saing regional bisa tertinggal dari negara seperti Vietnam atau India yang tumbuh lebih cepat.
Ketiga, kelas menengah tidak berkembang optimal, sehingga konsumsi domestik kehilangan motor utamanya. Keempat, tekanan fiskal meningkat karena kebutuhan belanja sosial naik lebih cepat dari basis penerimaan.
Terakhir, katanya, struktur ekonomi berisiko semakin bergeser ke sektor bernilai tambah rendah tanpa fondasi industri yang kuat.
Namun, pandangan berbeda disampaikan Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin. Dia menilai pertumbuhan 5,61 persen kuartal I 2026 sudah sangat baik di tengah kondisi global saat ini.
“Rasanya kalau bisa tumbuh 5% terus itu sudah hal yang luar biasa,” ujar dia kepada kumparan, Rabu (6/5).
Meski demikian, Eddy menilai kualitas pertumbuhan tetap harus diperhatikan, termasuk distribusi pertumbuhan antar sektor dan daerah.
Kata Eddy, yang perlu diobservasi adalah angka-angka detail di balik pertumbuhan ekonomi tersebut. Seperti komponen-komponen pertumbuhan GDP, GDP per sektor, GDP per daerah, dan gini coefficient.
Syarat Keluar dari Middle Income Trap
Secara sederhana, middle income trap adalah kondisi ketika negara berhasil naik dari negara miskin menjadi negara menengah, tetapi pertumbuhan ekonominya melambat sehingga sulit naik menjadi negara maju.
Wakil Menteri PPN/Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, mengatakan Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi 8 persen per tahun agar bisa keluar dari jebakan tersebut.
“Wajib dong (ekonomi tumbuh 8 persen), hukumnya wajib bukan sunah. Ekonomi Indonesia harus tumbuh lebih cepat agar dapat keluar dari middle income trap,” kata Febrian usai acara PLN CEO Insight di Jakarta, Selasa (26/11).
Target pertumbuhan 8 persen sudah masuk dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional 2025-2045.
Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi 8 persen akan jadi acuan untuk pemerintah menjalankan pemerintahan dari segala sisi. Terlebih Febrian juga tidak menampik Indonesia telah berada dalam middle income trap ini selama kurang lebih 30 tahun.
“Tapi tentunya ini akan menjadi kompas bukan hanya teknis tapi moral kompas juga bagi seluruh pihak stakeholder untuk menggunakan ini sebagai acuan pada saat kita melakukan tugas kita masing-masing,” jelasnya.
