Kumparan Logo

Purbaya Sebut Utang Whoosh Tak Mengerikan, Bisa Diurus 1 Perusahaan di Kemenku

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut penanganan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh berpeluang dilakukan melalui satu Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

SMV serupa perusahaan khusus pemerintah yang menangani tugas tertentu.

Purbaya mengatakan opsi tersebut masih dikaji seiring proses pengalihan utang dan pengelolaan Whoosh dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) kepada Kemenkeu. Proses serah terima tersebut ditargetkan berlangsung pada 15 September 2026.

“Yang jelas kita siapkan terus, tanggal 15 September insyaAllah, mudah-mudahan kita bisa diserahterimakan dari Danantara ke kami (kemenkeu),” kata Purbaya di kawasan Sunter, Selasa (8/9).

Menurut Purbaya, pemerintah masih mempertimbangkan lembaga yang akan menangani kewajiban tersebut. Salah satu opsi yang dibahas yakni melibatkan Indonesia Investment Authority (INA) dan Sarana Multi Infrastruktur (SMI) di bawah Kemenkeu.

“Ada kemungkinan, mungkin kita pake SMI dan INA, atau mungkin satu, nanti kita lihat. Ternyata cicilannya enggak gede-gede amat, harusnya sih satu SMV cukup,” ujarnya.

Purbaya menjelaskan keputusan tersebut akan mempertimbangkan beban pembayaran utang Whoosh setiap tahun. Pemerintah akan melihat kemampuan satu atau dua perusahaan SMV dalam menangani cicilan tersebut.

“Jadi gini, saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa sih, saya lihat setiap tahun saya lihat, oh kalau segini aja cukup lah ditangani oleh satu SMV, satu perusahaan SMV di bawah Departemen Keuangan, atau dua. Tapi uangnya cukup lebih,” jelasnya.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali ke Jakarta naik Whoosh usai melakukan kunjungan kerja di Jawa Barat, Kamis (7/8/2025). Foto: Dok. Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden

Dia menyebut total utang Whoosh memang besar. Namun, utang tersebut telah direstrukturisasi dengan tenor pembayaran yang sangat panjang, sehingga beban cicilan tahunan dinilai masih dapat ditangani pemerintah.

“Berarti kan total utang besar, tapi di stretch 80 tahun sudah di restrukturisasi. cicilannya Rp 1 atau sedikit di bawah satu dari tahun ke tahun, triliun. Ada yang tinggi ada yang rendah, tapi kalau kita lihat oh masih bisa lah,” kata dia.

Dengan skema restrukturisasi tersebut, Purbaya menilai kewajiban Whoosh tidak sebesar yang sebelumnya dibayangkan jika dilihat dari beban pembayaran setiap tahunnya.

“Jadi tidak semengerikan yang dibayangkan sebelumnya, karena utangnya sudah direkstrukturisasi," terangnya.

Sebelumnya, Purbaya menyebut proses pengalihan utang sekaligus pengelolaan Whoosh dari Danantara ke Kemenkeu akan dimulai pada pertengahan September 2026. Penyerahan tersebut nantinya dilakukan COO Danantara Dony Oskaria kepada Purbaya.

Saat ini, Kemenkeu dan Danantara masih mematangkan skema pengalihan utang dan pengelolaan proyek tersebut. Purbaya sebelumnya juga belum mengungkap badan di bawah Kemenkeu yang akan menangani utang Whoosh.