Kumparan Logo

Rapat soal Pertanian, Jokowi Singgung Lonjakan Harga Kedelai

kumparanBISNISverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Joko Widodo. Foto: Youtube/Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo. Foto: Youtube/Sekretariat Presiden

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pagi ini meresmikan Pembukaan Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian tahun 2021 dari Istana Negara, Jakarta, Senin (11/1).

Sejumlah menteri mulai dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Erick Thohir turut hadir. Acara tersebut disiarkan secara virtual.

Dalam sambutannya, Jokowi juga membahas sejumlah persoalan di bidang pertanian. Salah satunya adalah lonjakan harga kedelai belakangan ini yang membuat perajin tahu dan tempe tertekan.

"Kita tahu beberapa minggu hari terakhir ini, urusan yang berkaitan dengan tahu dan tempe, kedelai menjadi masalah juga," kata Jokowi.

Perajin tempe memasukkan kedelai ke dalam cetakan tempe di tempat produksi tempe di kawasan Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (3/1/2021). Foto: Didik Suhartono/ANTARA FOTO

Masalah itu dipicu oleh ketergantungan Indonesia pada kedelai impor kedelai. Sementara di masa pandemi ini sejumlah negara melakukan pembatasan sehingga berdampak pada pasokan pangan.

"Dalam kondisi pandemi COVID-19, sektor pertanian menempati posisi yang semakin sentral, kita tahu FAO memperingatkan potensi terjadinya krisis pangan. Hati-hati mengenai ini. Hati-hati akibat pembatasan mobilitas warga dan bahkan distribusi barang antar negara, distribusi pangan dunia menjadi terkendala," ujarnya.

Presiden Joko Widodo meninjau lahan yang akan dijadikan Food Estate atau lumbung pangan baru di Kapuas, Kalteng. Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Jokowi ingin masalah itu segera dicarikan solusinya. Seperti dengan mencari lahan untuk produksi kedelai agar produksi dalam negeri mampu mencukupi kebutuhan nasional. Tak hanya itu, dia ingin kedelai dalam negeri tak kalah bersaing juga dengan kedelai impor sehingga mendorong petani untuk menanamnya.

"Cari lahan yang cocok untuk kedelai tapi jangan 1-2 hektar, 10 hektar, 100 ribu, 300 ribu, 500 ribu, 1 juta hektar cari. Urusan jagung cari lahan yang bias ditanami jagung dalam skala yang luas, ini yang akan menyelesaikan masalah," katanya.

kumparan post embed

"Kalau hanya rutinitas urusan pupuk, urusan bibit, itu penting, saya tahu. Tapi kalau bisa menyiapkan dalam lahan yang besar akan menyelesaikan masalah," pungkasnya.