Rekam Jejak Harga BBM dari Masa ke Masa

8 September 2022 20:53
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pengisian BBM di SPBU Pertamina.  Foto: Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
Pengisian BBM di SPBU Pertamina. Foto: Pertamina
ADVERTISEMENT
Belum lama ini, pemerintah resmi mengumumkan harga kenaikan BBM subsidi. Jenis Pertalite yang sebelumnya dijual Rp 7.650 per liter, kini menjadi Rp 10.000 per liter. Sementara untuk Pertamax yang semula Rp 12.500-Rp 13.000 per liter, kini naik menjadi Rp 14.500 per liter. Sedangkan solar kini dijual seharga Rp 6.800 dari harga sebelumnya Rp 5.150 per liter.
ADVERTISEMENT
Kenaikan harga BBM ini bukan kali pertama di masa kepemimpinan Presiden Jokowi. Selama dua periode kepemimpinan, setidaknya Jokowi telah mengubah harga BBM sebanyak 6 kali.
Pada 2014, Jokowi menaikkan harga BBM dengan alasan minimnya anggaran infrastruktur dan kesehatan. Menurutnya, negara membutuhkan anggaran untuk infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Namun, anggaran tersebut tak tersedia lantaran dihamburkan untuk subsidi BBM.
Presiden Joko Widodo meninjau langsung pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Lampung, Sabtu (3/9/2022) Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo meninjau langsung pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Lampung, Sabtu (3/9/2022) Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden
Jokowi kembali mengubah harga BBM pada 2015. Di tahun itu, Jokowi secara berkali-kali menaikturunkan harga BBM, hingga akhirnya naik lagi secara signifikan. Hal ini dilakukan dengan alasan mempertimbangkan dinamika mutakhir harga minyak dunia dan perekonomian nasional.
Menilik tahun-tahun naiknya harga BBM di era kepemimpinan Jokowi, apakah Jokowi merupakan satu-satunya presiden yang paling sering menaikkan harga BBM?
ADVERTISEMENT

Fluktuasi Harga BBM Masa Jokowi

Setelah 2014 dan 2015, Jokowi kembali menurunkan harga BBM pada awal tahun 2016. Harga BBM jenis Premium saat itu turun dari Rp 7.300 menjadi Rp 6.950 per liter. Sementara harga solar turun dari Rp 6.700 menjadi Rp 5.650 per liter. Tiga bulan setelahnya, yakni 1 April 2016, harga Premium dan Solar kembali turun.
Perlu diketahui juga, pada masa Jokowi lah Pertalite pertama kali muncul, yakni pada 24 Juli 2015. Saat itu, uji pasar terbatas di lakukan di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Harga jual Pertalite pertama kali sebesar Rp 8.400 per liter.
Jokowi kembali menaikkan harga BBM pada 2018. Saat itu Pertalite naik sebanyak dua kali. 20 Januari 2018, pertalite naik menjadi Rp 7.600 per liter, lalu kembali naik menjadi Rp 7.800 per liter pada 24 Maret 2018.
ADVERTISEMENT
Awal pemerintahan Jokowi pada periode kedua, harga Pertalite turun pada Januari 2019. Jokowi menurunkannya menjadi Rp 7.650 per liter.
Sebelum 3 September 2022 lalu, Jokowi juga telah menaikkan BBM lebih dulu pada 1 April 2022. Ia menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax. Angkanya naik cukup signifikan, dari Rp 9.000 menjadi Rp 12.500-13.000 per liter.

Era Sukarno

Presiden Indonesia Sukarno menghadiri rapat umum yang diadakan di Lapangan Merdeka di depan Istana Merdeka, di Jakarta, 17 Agustus 1966. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Indonesia Sukarno menghadiri rapat umum yang diadakan di Lapangan Merdeka di depan Istana Merdeka, di Jakarta, 17 Agustus 1966. Foto: AFP
Kenaikan serta penurunan harga BBM pernah terjadi di setiap masa pemerintahan.
Pertama kali mengalami kenaikan yakni pada masa Sukarno. Ia menaikkan harga sebanyak 3 kali. Pada 22 November 1965, Sukarno menaikkan harga jenis Premium menjadi Rp 0,3 dan Solar menjadi Rp 0,2.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Berselang dua bulan kemudian, tepatnya pada 3 Januari 1966, pemerintah kembali menaikkan harga Premium dan Solar masing-masing menjadi Rp 1 dan Rp 0,2. Tak lama kemudian, pada 27 Januari 1966, pemerintah melakukan penyesuaian harga Premium dan menurunkannya menjadi Rp 0,5. Sedangkan Solar malah naik menjadi Rp 0,4. Kenaikan harga di era ini sebesar 66 persen.
ADVERTISEMENT

Era Soeharto

Jenderal Soeharto yang baru saja diangkat menjadi Presiden Indonesia oleh Jenderal Nasution (Presiden Kongres Rakyat), di Jakarta 19 Maret 1967. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Jenderal Soeharto yang baru saja diangkat menjadi Presiden Indonesia oleh Jenderal Nasution (Presiden Kongres Rakyat), di Jakarta 19 Maret 1967. Foto: AFP
Kenaikan juga dilakukan pada era pemerintahan Soeharto, yakni sebanyak 3 kali. Diawali pada 1980, harga BBM Premium naik menjadi Rp 150 per liter dan Solar Rp 52,5. Lalu pada 1993, Premium naik menjadi Rp 700 per liter, sedangkan Solar naik jadi Rp 380. Hingga pada 1998, Premium naik menjadi Rp 1.200 dan Solar Rp 600. Pada masa pemerintahan Soeharto, harga BBM naik 7 kali lipat atau setara 700%.

Era BJ Habibie

Mantan presiden BJ Habibie menunjukan foto dirinya bersama pesawat hasil karyanya N-250 'Gatotkaca' usai membuka  pameran foto 'Cinta Sang Inspirator Bangsa Kepada Negeri' di Museum Bank Mandiri, Jakarta, Minggu (24/7/2016). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
zoom-in-whitePerbesar
Mantan presiden BJ Habibie menunjukan foto dirinya bersama pesawat hasil karyanya N-250 'Gatotkaca' usai membuka pameran foto 'Cinta Sang Inspirator Bangsa Kepada Negeri' di Museum Bank Mandiri, Jakarta, Minggu (24/7/2016). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Berbeda dengan masa pemerintahan yang lain, masa kepresidenan BJ Habibie justru tak ada kenaikan, melainkan penurunan harga. Presiden Habibie menurunkan harga BBM Premium yang semula Rp 1.200 menjadi Rp 1.000 per liter. Penurunan harga tersebut sebesar 16 persen.
ADVERTISEMENT
Hal ini diduga karena adanya penurunan harga minyak dunia. Pada Januari 1998, harganya tercatat USD 31,25 per barel. Lalu turun menjadi USD 27,66 per barel pada Mei 1998.

Era Gus Dur

 Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. Foto: Paula Bronstein/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. Foto: Paula Bronstein/Getty Images
Di masa kepemimpinan Gus Dur, harga BBM kembali melonjak pada 1 Oktober 2000 menjadi Rp 1.150 per liter untuk jenis Premium dan Rp 600 untuk Solar. Kemudian 1 Juli 2001 Premium naik Rp 1.450 sedangkan Solar Rp 1.250. Kenaikan di era Gus Dur ini terhitung sebesar 26 persen.
Pada era Gus Dur juga BBM jenis Pertamax pertama kali dihadirkan. Dikutip dari situs resmi Pertamina, Pertamax pertama kali diluncurkan pada 10 Desember 1999. Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 21 tahun 2018, Pertamax menjadi jenis BBM yang harga jualnya ditentukan oleh badan usaha.
ADVERTISEMENT

Era Megawati

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri di acara Napak Tilas Ratu Kalinyamat Pahlawan Maritim Nusantara, Kamis (11/8/2022). Foto: PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri di acara Napak Tilas Ratu Kalinyamat Pahlawan Maritim Nusantara, Kamis (11/8/2022). Foto: PDIP
Setelah Gus Dur, kenaikan harga BBM juga dilakukan oleh Megawati sebanyak 2 kali. Pertama terjadi pada 2002, dari harga Rp 1.450 menjadi Rp 1.550 per liter. Kemudian di awal Januari 2003, naik menjadi Rp 1.810 per liter. Kenaikan ini sebesar 24 persen.

Era SBY

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melukis bersama anak-anak SD, SMP dan SMA se-Pacitan di Pantai Pancer Door, Pacitan, Jawa Timur. Foto: Instagram/@aniyudhoyono
zoom-in-whitePerbesar
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melukis bersama anak-anak SD, SMP dan SMA se-Pacitan di Pantai Pancer Door, Pacitan, Jawa Timur. Foto: Instagram/@aniyudhoyono
Sementara untuk masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kenaikan dan penurunan harga terjadi sebanyak 4 kali. Tahun 2005 naik jadi Rp 2.400 sampai Rp 4.500, hingga di tahun 2008 kenaikan harga mencapai angka Rp 6.000.
ADVERTISEMENT
Kemudian pada 2008 terjadi penurunan harga menjadi Rp 5.000 sampai Rp 5.500. Di tahun 2009, harga BBM kembali turun di angka Rp 4.500. Lalu kembali naik pada 2013, menyentuh angka Rp 6.500 per liter. Di masa SBY ini, kenaikan terjadi sebesar 44 persen.
ADVERTISEMENT
Kenaikan harga BBM terus terjadi hingga masa kepemimpinan Jokowi. Di masanya, kenaikan terjadi sebesar 6 persen. Kenaikan kali ini lantaran anggaran subsidi dan kompensasi BBM dalam APBN 2022 telah meningkat tiga kali lipat dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502 triliun.
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, naiknya harga BBM karena harga minyak yang terus melonjak sejak awal tahun meski dalam sebulan terakhir terus turun. Inflasi dan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS juga berpengaruh.
Reporter: Cut Salma
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020