Respons Banyak Profesi Baru, BPS Terbitkan KBJI 2026 Dukung Data Ketenagakerjaan

Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pemutakhiran Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI) melalui peluncuran KBJI 2026. Hal ini merupakan respons atas munculnya banyak pekerjaan atau profesi baru khususnya di digital job dan green job.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan dengan adanya KBJI 2026, hal itu turut mendukung data ketenagakerjaan. KBJI terakhir diterbitkan pada tahun 2014.
“Pemutakhiran KBJI ini menjadi penting untuk menjawab dinamika pasar kerja yang semakin cepat termasuk munculnya digital jobs dan green jobs. Selain itu, KBJI yang mutakhir ini diperlukan untuk mendukung standarisasi, integrasi, dan keterbandingan statistik ketenagakerjaan sekaligus menjadi rujukan tunggal bagi kegiatan sensus, kegiatan survei, dan integrasi data administrasi lintas sektor terkait ketenagakerjaan,” kata Amalia dalam Peluncuran KBJI 2026 di Kantor BPS, Jakarta, Jumat (18/9).
KBJI 2026 memang lebih merinci klasifikasi pekerjaan yang ada sesuai zaman. Dalam KBJI 2026, jumlah Golongan Pokok ada sebanyak 10, Subgolongan Pokok sebanyak 43, dan Golongan sebanyak 130 yang persis sama dengan KBJI 2014.
Namun, KBJI 2026 mengalami penambahan detail pada tingkat Subgolongan menjadi 449 kode atau naik 3 kode dari KBJI 2014. Selain itu, Jabatan pada KBJI 2026 juga didetailkan lebih rinci menjadi 2.380 posisi atau naik 243 Jabatan dibanding KBJI 2014.
“KBJI 2026 tidak hanya memperbaharui klasifikasi pekerjaan yang sudah ada tetapi juga menangkap munculnya berbagai jabatan baru seiring perkembangan dunia kerja. Salah satu contohnya terlihat pada sektor pariwisata. Dengan munculnya jabatan seperti ahli cagar budaya, dosen ilmu pariwisata, terapis spa, edukator museum, dan register museum. Ini contoh-contoh lapangan pekerjaan yang baru,” ujarnya.
Lebih lanjut, Amalia menjelaskan KBJI 2026 juga disusun dengan standar internasional. Standar yang digunakan adalah ISCO 8.
Dengan demikian, perbandingan data jabatan profesi yang ada di Indonesia lebih mudah untuk dibandingkan tak hanya dengan data waktu ke waktu yang ada di dalam negeri melainkan juga dengan dengan data internasional.
“Dengan struktur yang baku ini, informasi jabatan dapat dikumpulkan dan disajikan secara konsisten sehingga mudah dibandingkan antarwilayah, antarwaktu, bahkan dapat diperbandingkan antarnegara karena kami mengacu kepada standar internasional,” kata Amalia.
Bisa Bantu HC Petakan Lowongan Kerja
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli yang turut hadir juga menjelaskan KBJI 2026 yang sudah lebih mutakhir bisa membantu pelaku industri untuk mengelola SDM dan memotret tren profesi-profesi atau job title baru. Salah satunya juga bisa diimplementasikan untuk mendukung Human Capital (HC) perusahaan dalam memetakan lowongan kerja.
“Mereka bisa gunakan KBJI ini untuk lowongan pekerjaan, merancang struktur organisasi, mendetailkan bagaimana pengelolaan HR, SDM, Human Capital di perusahaan. Sehingga menuju kepada lebih terstandarkan,” kata Yassierli.
