Kumparan Logo

Respons Ketum Kadin Usai Trump Turunkan Tarif Impor untuk RI Jadi 19 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketum Kadin Anindya Bakrie saat meluncurkan Kadin Geo di Paris, Senin (15/7/2025). Foto: Arifin Asydhad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketum Kadin Anindya Bakrie saat meluncurkan Kadin Geo di Paris, Senin (15/7/2025). Foto: Arifin Asydhad/kumparan

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie merespons Presiden AS Donald Trump yang memangkas tarif impor untuk Indonesia dari yang semula 32 persen, kini menjadi 19 persen.

Anindya mengungkapkan Indonesia tak hanya akan impor beberapa komoditas dari AS sebagai kesepakatan tarif. Indonesia juga berpeluang untuk mengekspor lebih banyak beberapa komoditas ke negeri Paman Sam itu.

Menurutnya, nilai perdagangan Indonesia dengan AS nantinya juga bisa mencapai USD 80 miliar dengan adanya tarif baru yang turun ke 19 persen.

“Tapi artinya juga, kita bisa mengirim lebih banyak lagi. Lebih banyak apa? Tentunya tekstil, garmen, lalu juga alas kaki, lalu sampai kepada elektronik. Nah ini menurut saya USD 40 miliar (nilai perdagangan) dalam waktu 5 tahun bisa mencapai USD 80 miliar,” ujar Anindya di Prancis pada Rabu (16/7).

Untuk itu, Anindya menuturkan dalam negosiasi memang seharusnya tak hanya memikirkan keuntungan untuk AS, melainkan juga untuk Indonesia sendiri. Nantinya, Kadin juga akan melakukan koordinasi terkait kecukupan kapasitas dari industri garmen, alas kaki hingga tekstil untuk melakukan ekspor.

“Di dalam TPT ini kita mau main di mana? Mau main di upstream seperti tekstil atau mau mainnya di garmen? Nah kalau saya lihat banyak yang mengatakan, satu yang paling penting jangan sampai ada impor yang ilegal,” ujar Anindya.

Ketum Kadin Anindya Bakrie berfoto bersama usai meluncurkan Kadin Geo di Paris, Senin (15/7/2025). Foto: Arifin Asydhad/kumparan

Meski tarif dari AS sudah turun, Anindya mengungkapkan Kadin sebelumnya juga sudah bekerja untuk mencari pasar baru selain AS. Hasilnya, pasar baru terbuka yakni Uni Eropa (UE).

Anindya mengatakan saat ini yang perlu dilakukan adalah peningkatan kapasitas, utilisasi dan penggunaan hasil kesepakatan tarif baik dengan AS maupun UE terkait free trade agreement.

Meskipun tarif dari AS tak turun hingga 0 persen sebagaimana IEU-CEPA, Anindya tetap mengapresiasi tercapainya kesepakatan tarif yang ada di 19 persen saat ini.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa pihaknya tengah memetakan potensi dampak ekonomi dari kerja sama perdagangan Indonesia dengan mitra internasional, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Fokus utama yang ingin dihitung Kadin mencakup tiga hal: kebutuhan investasi, potensi peningkatan perdagangan, serta penciptaan lapangan kerja.

"Yang pertama, berapa banyak investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas. Yang kedua, berapa banyak kita bisa meningkatkan perdagangan. Dan yang ketiga, berapa banyak lapangan kerja yang bisa diciptakan," ujar Anindya dalam keterangannya.

Ia menegaskan bahwa Kadin akan berkoordinasi lebih lanjut dengan para pelaku usaha dan asosiasi agar dapat memberikan masukan yang konkret kepada pemerintah.

"Ini yang kita akan duduk bersama teman-teman. Kita akan olah nanti kali ini. Sehingga ketika berbicara dengan pemerintah, kita bisa berikan masukan," tambahnya.

Meski demikian, Anindya menyambut positif capaian kerja sama yang sudah diraih sejauh ini. Ia menyebut bahwa masyarakat dan media masih perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai substansi perjanjian, tetapi ia optimistis terhadap dampaknya.

"Tapi ini saya rasa dampaknya bisa meningkatkan lapangan kerja. Dan yang paling penting meningkatkan pertumbuhan. Dan ya, selamat lah," ujarnya Anindya.

video from internal kumparan