Kumparan Logo

RI Mau Produksi Sendiri KRL, KAI: Lebih Mahal dari Impor Kereta Bekas

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KRL melintas di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (19/1/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
KRL melintas di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (19/1/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

PT Kereta Api Indonesia (KAI) menjalin kerja sama berupa MoU dengan PT Industri Kereta Api (INKA) untuk pengadaan 16 trainset kereta rel listrik (KRL). Ini bertujuan untuk menekan impor kereta bekas.

Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo mengatakan, kerja sama ini merupakan penanda era baru industri kereta api Indonesia dengan meningkatnya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Harapannya, KRL bekas impor bisa tergantikan dengan unit baru hasil produksi INKA.

Kendati begitu, dia belum bisa membeberkan nilai kerja sama antara dua BUMN tersebut. Didiek berkata, nilai dan skema pendanaan harus ditentukan bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan KCI.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Didiek Hartantyo. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

"Secara cost masih terlalu dini. Ini masih MoU, belum lagi nanti langkah-langkah, nanti secara detailnya akan dielaborasi oleh KCI, tapi pasti akan memerhatikan aspek ramah lingkungan, efisien, terjangkau bagi masyarakat," ujar Didiek dalam konferensi pers, Senin (9/5).

Didiek pun mengakui bahwa biaya yang akan dikeluarkan INKA untuk produksi KRL dalam negeri akan jauh lebih mahal dari impor kereta bekas. Namun, dia memastikan hal ini tidak akan membebani masyarakat.

Dia menjelaskan, diskusi pendanaan harus melibatkan Kemenhub, karena untuk pengadaan unit KRL ini terdapat skema bernama Public Service Obligation (PSO).

"Mahal ya mahal (produksi) baru, tapi hitungan per penumpangnya yang akan kita hitung bersama-sama dengan Kemenhub," ungkapnya.

PT KCI dan PT INKA menandatangani MoU pengadaan kereta disaksikan Wamen II BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, Senin (9/5/2022). Foto: Kementerian BUMN

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo, menuturkan KRL berupa kereta bekas impor yang saat ini berjumlah 1.100 unit ini kepemilikannya (ownership) masih bertahun-tahun sehingga masih perlu perawatan.

"Kita akan lihat kualitas harus bagus, karena kita lihat dari sisi masa pakainya dan juga maintenance-nya harus murah," jelasnya.

Adapun menurut Direktur Utama PT INKA, Budi Noviantoro, skema pendanaan pengadaan 16 trainset KRL ini memiliki skema beli putus, dengan sumber pendanaan salah satunya dari perbankan.

"Sebenarnya beberapa skema sudah disampaikan, ada leasing macam-macam, tapi ada problem nanti di ownership-nya ini. Kalau leasing aset segala macam jadi repot. Jadi ini diputusnya untuk diputus," terang Budi.