Kumparan Logo

RI Terancam Gagal Jadi Negara Maju di 2045, Begini Dampaknya ke Ekonomi

kumparanBISNISverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertumbuhan Ekonomi Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pertumbuhan Ekonomi Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Indonesia terancam turun kelas dan kembali menjadi negara dengan berpendapatan menengah ke bawah (lower middle). Pandemi COVID-19 membuat pendapatan per kapita ikut menurun secara signifikan.

Bahkan target Indonesia menjadi negara maju di 2045 terancam tak tercapai akibat pandemi corona. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy mengatakan, pandemi akan membuat Indonesia kehilangan momentum untuk menyejahterakan warganya.

“Indonesia kehilangan momentum untuk menyejahterakan warganya ke level yang lebih tinggi. Beragam permasalahan sosial dan ekonomi juga berpotensi tidak tertangani secara optimal,” ujar Yusuf kepada kumparan, Sabtu (13/2).

Dia mencontohkan, dengan molornya berbagai target tersebut, jumlah lapangan kerja di Indonesia juga tak sebanyak yang diharapkan. Bahkan pekerja informal diprediksi akan terus bertambah.

“Lapangan kerja yang sifatnya informal dan rentannya banyak penduduk yang bisa terjerat ke jurang kemiskinan, karena sifat lapangan kerja yang informal,” jelasnya.

Potret kemiskinan di Indonesia. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Dia melanjutkan, Indonesia perlu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Jika ke depan perekonomian hanya mampu tumbuh maksimal 5 persen, maka dapat dipastikan Indonesia akan masuk jebakan pendapatan menengah (middle income trap).

Menurut Yusuf, pertumbuhan ekonomi Tanah Air perlu mencapai 7-8 persen untuk bisa menjadi negara maju. Salah satu yang perlu didorong adalah sektor manufaktur.

Pada level tertentu, negara berpendapatan menengah akan menjadi tidak kompetitif pada sektor industri bernilai tambah (value added industries), seperti manufaktur.

Industri padat karya juga akan mulai berpindah ke negara berupah rendah, sehingga pertumbuhan ekonomi pada negara tersebut akan cenderung stagnan atau bahkan menurun.

Jika hal tersebut terjadi dan berlangsung dalam waktu yang lama, maka Indonesia akan kesulitan untuk bersaing dengan low-wage countries, tapi juga kesulitan untuk bersaing dengan high-technology countries.

Sementara itu, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, juga mengkhawatirkan kondisi Indonesia yang akan terjebak dalam kelas menengah. Imbasnya adalah Indonesia akan menjadi tua sebelum kaya.

kumparan post embed

“Tentu tantangannya adalah bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat. Kita tak bisa terus menerus tumbuh hanya 5 persen. Tahun 2060 Indonesia akan masuk dalam aging population. Jika terus tumbuh hanya 5 persen, maka ada risiko kita tua sebelum kaya,” kata Chatib dalam seminar UI pada Februari 2019 lalu.

Jika hal itu terjadi, maka negara harus mengucurkan anggaran untuk jaminan kesehatan bagi banyaknya penduduk usia tua. Anggaran tersebut tentunya harus dibiayai dengan penerimaan negara yang memadai.

"Kalau tua sebelum kaya, beban negara dengan 'aging population' yang sudah berhenti kerja jadi enggak bayar pajak dan masih hidup, butuh kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Harus ada beban fiskal yang besar," tambahnya.