Kumparan Logo

Rumahkan Pekerja di Tengah Kehadiran Super Air Jet, Lion Air Dinilai Tak Etis

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesawat-pesawat milik Lion Air Group yang sedang dicek dan diperbaiki di Hangar Batam Aero Technic (BAT), Batam. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat-pesawat milik Lion Air Group yang sedang dicek dan diperbaiki di Hangar Batam Aero Technic (BAT), Batam. Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Lion Air Group milik Rusdi Kirana merumahkan 8.050 pekerjanya akibat bisnis penerbangan turun tajam di masa pandemi. Ribuan pekerja yang dirumahkan itu setara 35 persen dari total 23.000 karyawan yang ada di Lion Air, Batik Air, dan Wings Air.

Di sisi lain, Rusdi Kirana sebagai pemilik Lion Air Group, juga mendirikan maskapai baru bernama Super Air Jet. Dia dikabarkan menyuntikkan dana segar USD 67,8 juta atau sekitar Rp 969,5 miliar kepada maskapai baru Super Air Jet dan Flyindo Aviasi Nusantara (FAN). Kedua perusahaan maskapai tersebut masih dimiliki keluarga Kirana.

Dikutip dari Debtwire, transaksi kepada dua maskapai baru tersebut terjadi pada bulan Februari 2021 ketika Lion Mentari Airline, perusahaan yang mengelola Lion Air, sedang melakukan restrukturisasi utang.

Pengamat penerbangan Arista Atmadjati mengatakan tidak masalah Lion Air merumahkan pekerja dari sisi hukum tenaga kerja karena banyak perusahaan yang juga merumahkan karyawannya akibat pandemi. Namun, dua hal ini memang berbanding terbalik dan tidak etis.

"Cuma ya kurang etis saja. Tapi di Super Air Jet, nama Rusdi Kirana tidak muncul, tidak tertulis. Jadi dia bisa saya berkelit," katanya saat dihubungi kumparan, Minggu (1/8).

Pesawat pertama Airbus A330-900 NEO pesanan Lion Air tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Foto: Dok. Lion Air

Lebih jauh, Arista berpendapat karena Lion Air Group perusahaan swasta dan tidak terdaftar di bursa saham, lebih mudah melakukan aksi korporasi. Beda dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan BUMN dan go public.

Persoalan besar Lion Air Group, kata Arista, sebenarnya tidak bisa mencicil sewa pesawat yang jumlahnya ratusan karena banyak yang parkir di bandara akibat jumlah penerbangan turun.

"Jadi mending dibalikin dan sebagian disewa lagi oleh maskapai di USA. Daripada pusing mikirin Lion Air, Rusdi bikin maskapai baru dengan pesawat yang lebih berumur agar sewanya murah," kata Arista.

Dia juga menilai Indonesia sebagai negara kepulauan, masih membutuhkan banyak perusahaan maskapai lokal. Hal itu juga yang dilihat dan dibidik Super Air Jet tepat sebab potensi pesawat berbiaya murah sangat potensial.

kumparan post embed

Saat ini, Super Air Jet belum melakukan terbang perdana meski sudah mengumumkan pembukaan sejumlah rute yang semuanya terkoneksi dengan Jakarta, seperti ke Medan, Palembang, Padang, Pekanbaru, hingga Pontianak.

Kementerian Perhubungan menyatakan seluruh syarat untuk bisa terbang telah dipenuhi Super Air Jet. Jika seluruh izin yang dibutuhkan sudah selesai, maskapai tinggal melakukan terbang perdana.

"Sejauh ini sudah (semua syarat). Iya (tinggal terbang saja). Tapi saya belum dapat infonya (kapan akan terbang)," kata Direktur Jenderal Perhubungan Kemenhub, Novie Riyanto, kepada kumparan.