Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya
·waktu baca 4 menit

Nilai tukar rupiah kembali tertekan mendekati level Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6). Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 12.00 WIB, rupiah melemah 88,50 poin atau 0,50 persen ke level Rp 17.927 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menguatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah saat ini tidak lagi semata-mata dipengaruhi faktor musiman, melainkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik.
Menurutnya, pasar masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global melalui Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak turut memberikan tekanan bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
“Pelemahan rupiah ke sekitar Rp 17.900 terutama mencerminkan bahwa pasar masih melihat tekanan rupiah sebagai gabungan antara tekanan global dan tekanan domestik, bukan lagi sekadar faktor musiman,” kata Josua dalam keterangannya, Rabu (3/6).
Josua menjelaskan kondisi tersebut sangat relevan bagi Indonesia karena kebutuhan impor minyak, LPG, dan biaya logistik yang menggunakan dolar AS. Akibatnya, kenaikan harga energi langsung meningkatkan permintaan valuta asing dan menekan nilai tukar rupiah.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari melemahnya surplus perdagangan. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya sekitar USD 0,09 miliar, turun tajam dibandingkan Maret yang mencapai USD 3,32 miliar. Secara kumulatif, surplus Januari-April 2026 juga menyusut menjadi USD 5,64 miliar dari USD 11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menyusutnya surplus perdagangan membuat pasokan dolar dari aktivitas ekspor menjadi lebih terbatas. Di saat yang sama, kebutuhan impor bahan baku, energi, dan barang modal masih tinggi, sehingga permintaan dolar tetap kuat.
Selain itu, pasar mulai mencermati potensi dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi. Inflasi Mei 2026 tercatat naik menjadi 3,08 persen dari 2,42 persen pada April. Kenaikan biaya input impor, energi, transportasi, hingga pangan dinilai mulai memberikan tekanan terhadap biaya produksi dan daya beli masyarakat.
Meski demikian, Josua melihat peluang stabilisasi rupiah mulai terbuka setelah kebutuhan dolar untuk pembayaran dividen dan musim haji yang sempat memuncak pada April-Mei mulai berkurang.
“Karena itu, menurut saya peluang rupiah menguat bulan ini tetap ada, tetapi lebih realistis disebut sebagai penguatan terbatas atau stabilisasi bertahap, bukan pembalikan cepat,” ujarnya.
Menurut Josua, rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp 17.600-Rp 17.750 per dolar AS apabila harga minyak turun seiring kemajuan perundingan damai AS-Iran, arus modal asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik, serta pemerintah mampu memberikan sinyal fiskal yang meyakinkan.
Namun sebaliknya, jika harga minyak kembali naik dan sentimen risiko global memburuk, rupiah berpotensi bertahan di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Harga Minyak dan Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah hari ini.
Ia mengatakan harga minyak mentah yang terus meningkat membuat biaya impor energi Indonesia semakin besar. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan dolar AS di pasar domestik.
“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia,” kata Ibrahim.
Selain faktor energi, ia juga menyoroti masih mandeknya proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu pengayaan uranium. Ketegangan tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik global.
Di sisi lain, kenaikan harga energi dinilai berpotensi menjaga inflasi Amerika Serikat tetap tinggi. Kondisi itu membuat pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga tahun ini.
Menurut Ibrahim, dari sisi domestik tekanan terhadap rupiah juga berasal dari tingginya kebutuhan dolar untuk impor minyak, pembayaran dividen, serta kewajiban utang yang jatuh tempo.
Ia menambahkan pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat melalui penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran, menjaga ketersediaan barang, serta mendorong investasi dan sektor riil agar mampu menarik kembali aliran modal ke Indonesia.
