Rusia-Ukraina Memanas, Pengamat Dorong Masyarakat Beli Emas daripada Saham

Konflik geopolitik Rusia dan Ukraina serta keterlibatan Amerka Serikat (AS) di dalamnya berdampak kepada harga emas yang terus melonjak di pekan ini. Setelah sempat turun cukup drastis, hari ini, Minggu (20/2), harga emas Antam mencapai Rp 969.000 per gram.
Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menuturkan masyarakat bisa memanfaatkan momentum konflik Rusia dan Ukraina ini untuk berinvestasi logam mulia, karena kondisi ini diprediksi akan berlangsung lama.
"Saat ini sedang terjadi perang di Ukraina, ini kesempatan bagi masyarakat untuk kembali ke logam mulia, karena ada kemungkinan besar perang ini akan lama dan ini secara jangka pendek akan mengangkat harga logam mulia ke level tertinggi berkat konflik di Ukraina," ujar Ibrahim kepada kumparan, Minggu (20/2).
Ibrahim memprediksi, harga emasi di saat konflik geopolitik saat ini bisa saja menembus rekor di tahun 2020 lalu. Menurut catatan kumparan, harga emas menembus rekor tertinggi sepanjang masa, yakni USD 2.000 per troy ounce pada 5 Agustus 2020.
Saat ini, per 18 Februari 2022, harga emas spot sudah mencapai harga USD 1,897.87 per troy ounce. Ibrahim mengatakan, harga ini kemungkinan akan terus melambung seiring dengan memanasnya situasi di perbatasan Ukraina.
"Secara matematis kalau perangnya cukup lama, bisa saja mencapai level Rp 1.3 juta (per gram), kita tahu keterlibatan NATO dan AS yang membuat perang itu lama. Kalau seandainya 1-2 bulan belum ada kemenangan bagi Rusia, harga emas ini akan terus melambung," jelasnya.
Lebih lanjut lagi, Ibrahim menjelaskan penyebab naiknya emas ketika konflik geopolitik ini karena masyarakat cenderung mencari investasi safe haven, salah satunya emas. Emas merupakan jaminan untuk negara mencetak uang.
Sementara itu, investasi saham akan mulai ditinggalkan. Hal tersebut karena pada saat terjadi perang, ada kemungkinan bursa saham negara yang terlibat konflik tersebut akan libur.
"Kemungkinan perang ini akan melebar, sekutu-sekutu Rusia, Eropa, dan AS. Seperti Perang Dunia II, semua bursa tutup, semua obligasi, surat berharga itu semua tidak ada harganya. Hanya logam mulia yang ada harganya," terang dia.
Tidak hanya itu, situasi konflik geopolitik yang semakin memanas ini membuat Bank Sentral AS atau The Fed kemungkinan besar menangguhkan kebijakan kenaikan suku bunganya, yang sebelumnya akan terjadi di Maret.
"Perang ini membutuhkan uang yang sangat besar, sehingga bank sentral AS pun berhati-hati menaikan suku bunga, dengan kehati-hatian inilah kemungkinan logam mulia akan terus terbang," katanya.
Ibrahim juga mengatakan, selain antara Rusia dan Ukraina, konflik geopolitik juga terjadi di kawasan Timur Tengah. Situasi perang ini bisa saja meningkatkan inflasi bisa mencapai level di atas 8 persen yang turut memberikan sentimen kepada harga emas.
"Negara dengan cadangan emas terbesar di dunia adalah AS, Rusia, dan Eropa, pada saat perang ketiganya akan mengalami inflasi tinggi, membuat harga emas juga mengikuti lebih tinggi lagi harganya," kata dia.
