Sarana Tak Layak Dinilai Jadi Penyebab Utama Kecelakaan Kereta Api
·waktu baca 3 menit

Ketua Umum Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA), Hermanto Dwiatmoko mengatakan kecelakaan kereta api di Indonesia salah satunya disebabkan oleh sarana kereta yang tidak layak.
Dari catatannya, dalam periode 2018-2022 ada 68 insiden kecelakaan kereta api, baik itu tabrakan, anjlok, maupun insiden di lintasan sebidang.
"Penyebabnya ada lima. Pertama adalah karena sarana. Mungkin sarana tidak laik, mungkin tidak bisa ngerem. Macam-macam. Kemudian prasarana, mungkin treknya jembatannya, terowongannya kurang kelaikan," kata Hermanto dalam webinar yang digelar Pusyral UGM, Kamis (25/1).
Selanjutnya adalah faktor SDM, yang bisa termasuk kelalaian masinis maupun Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) yang mengatur lalu lintas kereta api.
"Karena ini sebagian besar masih ditangani oleh manusia," kata Hermanto.
"Kelalaian awak sarana perkeretaapian (masinis) karena melanggar sinyal. Kemudian juga ada faktor kelalaian petugas PPKA yang seharusnya dia berhenti dijalankan terus, lalu sinyalnya, dan macam-macam," sambungnya.
Kemudian faktor terakhir adalah faktor eksternal dan alam. Meski demikian dirinya melihat sudah ada upaya perbaikan-perbaikan oleh pemerintah. Dan terbukti dalam 3 tahun terakhir insiden kecelakaan kereta api mulai turun.
Menurutnya, insiden kecelakaan kereta api juga mempengaruhi dari segi bisnis PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
"Keselamatan perkeretaapian jadi ujung tombak bisnis perkeretaapian. Bagaimanapun baiknya pelayanan kalau enggak selematan ya enggak bagus. Di transportasi, keselamatan jadi ujung tombak pelayanan," pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dicecar oleh anggota Komisi V DPR RI, karena insiden kecelakaan kereta antara KA Turangga Surabaya-Gubeng dengan KA Lokal Bandung Raya pada bulan ini.
Anggota Komisi V Fraksi Nasdem, Roberth Rouw, menyoroti kecelakaan tersebut sebagai kesalahan yang fatal lantaran merenggut empat nyawa awak PT KAI yang menurutnya sia-sia.
Roberth menyayangkan, kecelakaan serupa yang pernah terjadi berpuluh-puluh tahun silam di Bintaro, harus kembali terulang. Padahal menurutnya, kereta api merupakan moda transportasi yang punya jalur khusus dan pengaturannya telah didesain sedemikian rupa.
“Saya garis bawahi di sini yang paling fatal, tentang kecelakaan kereta api, kita lihat kecelakaan dulu kasus Bintaro puluhan tahun yang lalu kok sekarang masih terjadi, kenapa?” kata Robert dalam Rapat Kerja Komisi V membahas Evaluasi Pelaksanaan Angkutan Nataru 2023, Kamis (18/1).
Roberth juga melihat anggaran Kemenhub terlalu terfokus pada pembangunan fasilitas di Ibu Kota Negara (IKN) tanpa mengalokasikan anggaran bakal perbaikan sarana dan prasarana perkeretaapian yang sudah terbangun.
Padahal menurut Roberth, jalur-jalur kereta api tersebut telah berumur renta dan merupakan warisan pada masa penjajahan kolonial Belanda.
“Di dalam anggaran (Kementerian) Perhubungan ada anggaran yang mendukung IKN, tapi tidak ada anggaran yang dikhususkan untuk mendukung perbaikan sistem mengatasi kecelakaan jalur kereta api di pulau Jawa, tidak ada,” cecarnya.
