SBY: Banyak Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang, RI Harus Bijak
·waktu baca 2 menit

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyebut saat ini perekonomian global sedang mengalami fragmentasi. Pada saat bersamaan, banyak negara berkembang justru lebih banyak menghabiskan uang untuk membayar utang.
Padahal kebutuhan anggaran untuk berbagai hal, seperti kesehatan sampai adaptasi iklim, terus meningkat.
“Ekonomi global menghadapi fragmentasi. Perdagangan tidak lagi hanya didorong oleh efisiensi, tetapi juga oleh geopolitik. Teknologi menjadi sumber produktivitas sekaligus arena persaingan. Kita juga melihat tekanan yang semakin besar terhadap keuangan publik,” kata SBY dalam acara Proficient di Perbanas Institute, Jakarta pada Selasa (2/6).
“Banyak negara berkembang menghabiskan lebih banyak anggaran untuk pembayaran utang, sementara kebutuhan pembiayaan untuk kesehatan, pendidikan, infrastruktur, transisi energi, dan adaptasi iklim terus meningkat,” lanjutnya.
Dengan kondisi tersebut, SBY menilai Indonesia harus mengambil langkah yang tepat. Salah satu hal yang ditekankan adalah agar Indonesia memiliki strategi pembangunannya sendiri.
“Dalam situasi global seperti ini, negara-negara berkembang seperti Indonesia harus bersikap bijaksana. Kita tidak bisa begitu saja meniru jalur yang ditempuh negara maju. Kita harus merancang strategi pembangunan kita sendiri,” ujarnya.
Selain rancangan pembangunan, SBY juga melihat penting untuk Indonesia untuk tetap berorientasi pada pasar namun harus mengedepankan aspek berkelanjutan dan sosial.
“Terbuka terhadap dunia, tetapi berakar pada kepentingan nasional. Berorientasi pada pasar, tetapi tetap bertanggung jawab secara sosial. Berorientasi pada pertumbuhan, tetapi berkelanjutan secara lingkungan. Maju secara digital, tetapi tetap berpusat pada manusia. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia,” kata SBY.
