Segarnya Prospek Bisnis Industri Kesehatan, Ini Langkah Ekspansi Argon Group
ยทwaktu baca 3 menit

Di tengah pandemi COVID-19 yang makin terkendali, bisnis industri kesehatan tetap punya prospek yang tetap segar. Hal itu membuat salah satu pelaku bisnis distribusi farmasi dan alat kesehatan, PT Medela Potentia (Argon Group) menyiapkan sejumlah langkah ekspansi usaha.
Presiden Direktur Argon Group, Krestijanto Pandji, memaparkan pada 2021 lalu belanja sektor kesehatan Indonesia mencapai Rp 645,25 triliun. Secara tren, angka tersebut terus naik setiap tahunnya, karena di 2013 baru sebesar Rp 287,48 triliun.
"Apakah setelah pandemi COVID-19 terkendali akan turun? Enggak seperti itu. Belanja farmasi dan alat kesehatan terkait COVID-19 kayak masker, antivirus, dan sejenisnya mungkin turun. Tapi kebutuhan lainnya kalau dari data kita menunjukkan kenaikan," kata Krestijanto Pandji dalam perbincangan dengan kumparan, Kamis (30/6).
Dia mencontohkan, sepanjang pandemi tindakan operasi medis menurun, karena menghindari risiko COVID-19. Kecuali operasi yang sifatnya darurat. Tapi setelah pandemi mereda, hal itu meningkat. Tentu saja menurutnya, kebutuhan farmasi dan alat kesehatan pendukungnya pun meningkat.
Apalagi menurutnya, alokasi anggaran kesehatan di APBN rata-rata hanya di kisaran 2,3 persen. Masih lebih rendah dari Malaysia yang 2,8 persen. Dia menilai, ruang fiskal untuk meningkatkan anggaran kesehatan masih sangat terbuka.
Sementara itu, data tahun 2019 mengungkapkan belanja sektor kesehatan per kapita di Indonesia hanya USD 120. Masih di bawah negara tetangga seperti Malaysia sebesar USD 437 dan Singapura sebesar USD 2.856.
Merespons tren pertumbuhan belanja kesehatan, Argon Group pun menyiapkan sejumlah langkah ekspansi. Perusahaan distribusi farmasi dan alat kesehatan yang berdiri sejak 1980 itu, akan melebarkan sayap bisnis ke industri manufaktur, serta berekspansi ke pasar regional.
Bangun Pabrik Alat Kesehatan
Pada 2020 Argon Group mendirikan PT PT Deca Metric Medica. Perusahaan ini sedang membangun pabrik di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. "Pabrik kita di Cikarang sendiri diharapkan bisa diresmikan dan mulai berproduksi pada awal tahun depan (2023)," kata Krestijanto.
Sayangnya, dia enggan mengungkapkan nilai investasi serta target penjualan alat kesehatan yang akan diproduksinya itu. Tapi dia memberi gambaran, 10 produk alat kesehatan yang paling banyak digunakan di Indonesia, punya nilai penjualan di 2021 sebesar Rp 7,46 triliun.
Di antara 10 produk tersebut, antara lain alat infus, sarung tangan bedah, kasa dan pembalut luka, kapas alkohol, dan berbagai jenis masker. "Yang akan kita produksi sebagian dari daftar 10 alat kesehatan yang penjualannya paling besar itulah," imbuh Krestijanto Pandji.
Ekspansi ke Pasar Regional
Argon Group juga telah menggarap pasar distribusi farmasi dan alat kesehatan di Kamboja, melalui anak usahanya yakni Dynamic Argon. Perusahaan joint venture itu 75 persen sahamnya dimiliki PT Medela Potentia, sisanya oleh mitra bisnis di Kamboja.
"Mungkin ada yang bertanya, kenapa kok ke Kamboja. Jujur saja di pasar yang tidak populer, margin usahanya lebih besar," ujarnya. Tak hanya itu, Argon Group juga kini akan merealisasikan bisnisnya ke Myanmar yang sudah dirintis sejak 2018. Sayangnya ekspansi ini terganjal pandemi, dan baru akan digarap lagi tahun ini.
Kembangkan Platform Digital
Langkah ekspansi terbaru Argon Group adalah merambah ke digitalisasi bisnis utamanya. Perusahaan mengembangkan aplikasi digital untuk produk farmasi dan alat kesehatan melalui PT Karsa Inti Tuju Askara.
Menurut Krestijanto, di aplikasi tersebut ditampilkan data transaksi, stok, dan keberadaan berbagai produk farmasi dan alat kesehatan di semua wilayah bisnis Argon Group secara realtime. Bahkan, order juga bisa dilakukan di aplikasi tersebut.
"Mungkin saat ini pertumbuhan bisnis digital ini belum tinggi. Tapi 5-10 tahun ke depan, ini adalah penggerak pertumbuhan bisnis farmasi dan alat kesehatan," pungkas Presiden Direktur Argon Group, Krestijanto Pandji.
