Sepanjang 2018 Suku Bunga BI Sudah Naik 6 Kali, Masih Mau Lagi?

Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7 Day Repo Rate telah meningkat 25 basis poin (bps) ke level 6 persen pada bulan ini. Kenaikan suku bunga acuan ke enam kalinya ini sepanjang 2018 di luar prediksi banyak pihak.
Hal tersebut karena Bank Sentral AS atau Federal Reserve diprediksi baru akan menaikkan suku bunga acuannya atau Fed Fund Rate (FFR) pada Desember mendatang. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menguat dalam beberapa waktu terakhir, begitu pun dengan laju inflasi yang terkendali.
Namun demikian, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, kenaikan suku bunga acuan tersebut lantaran bank sentral lebih banyak mempertimbangkan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dibandingkan dengan laju inflasi. Hal ini lah yang menjadi salah satu pertimbangan utama BI dalam menaikkan suku bunga.
Pada kuartal III 2018, CAD mencapai USD 8,8 miliar atau 3,37 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), melebar dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar USD 8 miliar atau 3 persen terhadap PDB.
"Kami di BI, isu kebijakan moneter ini lebih di-drive oleh neraca pembayaran ini. Itu yang kami dorong, bukan inflasi. Kebijakan moneter sementara waktu tidak diarahkan ke inflasi, tapi ke CAD," ujar Dody dalam pemaparannya di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (17/11).
Untuk kebijakan suku bunga acuan BI di bulan depan, Dody menuturkan, pihaknya masih akan melihat data perkembangan ekonomi. Artinya, kenaikan suku bunga BI tak semata-mata karena mengimbangi kenaikan FFR saja.
"Jadi apapun yang terjadi, saya tidak pernah mengatakan FFR naik besok, BI mengawali dengan naik hari ini. Tidak pernah. BI melihat dari data dependence," jelasnya.

Dody juga memaparkan, mengenai suku bunga acuan bulan depan, pihaknya akan melihat perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun demikian, prinsip antisipatif (pre-emptive) dan suku bunga yang tak tertinggal dengan negara lainnya (a head of the curve) juga akan tetap diperhatikan BI.
"Kami akan melihat forward looking, bagimana pertumbuhan ekonomi dan rupiah. Kami lihat global juga. Selanjutnya prinsip preemptive, head a curve," tambahnya.
Sementara itu, Ekonom Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat memperkirakan, kondisi tahun depan akan berbeda dengan tahun ini. Menurut dia, arus modal asing akan mulai kembali ke negara berkembang sehingga tak perlu khawatir akan ada modal kembali ke AS karena suku bunganya naik.
"Kemungkinan besar, tahun depan itu kebalik, ada dana kembali ke emerging market, dan dipilihlah emerging market yang mana yang lebih baik, katakanlah sentral bank-nya lebih prudent dan lain-lain," ujar Budi di tempat yang sama.
Dia mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi karena defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang melebar. Meski tak bisa dipungkiri penguatan dolar AS juga memiliki andil dalam pelemahan rupiah.
Selain itu, kondisi yang dihadapi oleh BI saat ini juga lebih baik dibandingkan negara berkembang lain. Misalnya saja bank sentral Turki yang tidak ingin menaikkan suku bunga acuannya meski inflasi tinggi, sehingga mempengaruhi mata uang Lira yang melemah cukup dalam. Untuk itu, BI tak perlu terlalu cepat memutuskan untuk menaikkan suku bunga.
"So far saya liat BI sudah prudent, dia sudah jaga. Kemudian acuan normatif yang lain adalah, jangan sampai suku bunga BI jauh lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi. Sama saja dengan sentral bank itu kita membunuh pertumbuhan ekonomi," sebutnya.
