Kumparan Logo

Setoran Freeport Tahun Ini Diproyeksi Turun Jadi USD 2,6 Miliar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rapat kerja Freeport Indonesia dan Amman Mineral bersama Komisi XII di Gedung Parlemen, Jakarta pada Selasa (14/7/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rapat kerja Freeport Indonesia dan Amman Mineral bersama Komisi XII di Gedung Parlemen, Jakarta pada Selasa (14/7/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, mengakui bahwa penerimaan negara dari PTFI tahun ini akan menurun tahun ini. Meski demikian, penerimaan negara dari PTFI akan kembali meningkat tahun depan.

Ia menjelaskan penerimaan negara dari PTFI tahun ini diprediksi mencapai USD 2,6 miliar. Angka tersebut memang turun dari tahun 2025.

“Kalau kita lihat tahun 2026 penerima negara yang terdiri dari pajak, dividen dan royalti itu memang menurun menjadi USD 2,6 miliar dari tahun lalu USD 4,3 miliar,” kata Tony dalam rapat kerja bersama Komisi XII di Gedung Parlemen, Jakarta pada Selasa (14/7).

Pada 2025, total penerimaan negara dari PTFI tercatat sekitar USD 4,3 miliar terdiri atas USD 2 miliar pajak, USD 1 miliar dividen, dan USD 1,2 miliar PNBP. Sementara tahun ini, penerimaan negara diproyeksikan turun menjadi USD 2,6 miliar terdiri dari USD 0,5 miliar PNBP, 1,1 miliar dividen dan 1 miliar pajak.

Meski begitu, Tony optimistis tahun depan PTFI kembali mencatat peningkatan penerimaan negara karena meningkatnya produksi

Area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) PT Freeport Indonesia. Pada 2025, volume penjualan PTFI untuk tembaga sebesar 1,2 miliar pound serta 1,1 juta ounces emas. Foto: Dok. PTFI

“Kalau kita lihat proyeksi di tahun 2027 sesuai dengan peningkatan produksi kita itu akan penerima negara akan bisa mencapai USD 4,7 miliar,” ujarnya.

Secara rinci, penerimaan negara dari Freeport tahun depan terdiri dari USD 1,9 miliar pajak, USD 1,9 miliar dividen dan USD 0,8 miliar PNBP.

Selain itu, penerimaan negara dari PTFI juga akan terus meningkat di tahun berikutnya dengan USD 7,1 miliar pada 2028 dan 2029 hingga mencapai USD 8 miliar pada 2030. Hal ini menurut Tony bisa dicapai seiring pemulihan kapasitas produksi dari PTFI.

“Dan kita lihat begitu masuk sudah kapasitas produksi penuh, kita lihat bahwa penerimaan negara akan bisa melebihi USD 7 miliar per tahun. Jadi kalau kita rupiahkan itu kira-kira sekitar Rp 120 triliun per tahun begitu seterusnya selanjutnya di tahun-tahun ke depan,” kata Tony.

Smelter Gresik Akan Kembali Beroperasi September

Sebelumnya, ia juga menjelaskan bahwa penambangan bijih PTFI memang sempat turun akibat insiden di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) beberapa waktu lalu. Hal itu juga turut berpengaruh pada smelter PTFI di Gresik karena tak bisa mendapat asupan konsentrat. Namun demikian, ia menarget smelter Gresik bisa kembali beroperasi pada September tahun ini.

“Dan rencana smelter baru ini akan mulai berproduksi kembali atau mengolah memurnikan konsentrat dari Papua itu pada bulan September tahun ini. Dan akan dilakukan frame up sampai dengan akhir tahun,” ujarnya.

instagram embed