Singapura hingga China Investor Terbesar RI, Bahlil: Kita Tak Kasih Karpet Merah
·waktu baca 2 menit

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkapkan tidak ada perlakuan khusus kepada investor yang berbisnis di Indonesia. Dia menekankan, realisasi investasi di Indonesia harus seimbang.
Ada 10 negara yang tercatat menjadi investor besar di Indonesia. Mulai dari Singapura hingga China. Tapi, Bahlil menegaskan pemerintah tak siapkan karpet merah terhadap suatu negara. Hal itu diungkapkannya dalam konferensi pers di Gedung BKPM, Selasa (24/1).
"Jadi jangan bicara lagi seolah-olah kita hanya memberikan karpet merah kepada satu negara tertentu, enggak ada!" katanya.
Secara rinci, negara yang jadi investor terbesar Indonesia sepanjang tahun lalu di antaranya Singapura senilai USD 12,28 miliar, Tiongkok, USD 8,22 miliar, Hongkong USD 5,51 miliar, Jepang USD 3,56 miliar, dan Malaysia USD 3,34 miliar.
"Mohon maaf bukan uangnya orang Malaysia, tapi ini Malaysia sebagai hub untuk melakukan investasi dari Korea, Lotte. Lotte itu hub-nya di Malaysia. Jadi jangan pikir uangnya dari orang Malaysia nggak, orang Indonesia punya uang lebih banyak," terangnya.
Kemudian Amerika Serikat sebesar USD 3,22 miliar, Korea Selatan USD 2,29 miliar, Belanda USD 1,22 miliar.
Untuk AS, kata dia, investor paling besar adalah hilirisasi dari smelter di Gresik untuk Freeport yang untuk mengelola tembaga dan emas. Negara adidaya itu juga berinvestasi pengolahan batu bara jadi dimetil eter (DME) di Indonesia melalui perusahaan Air Product di Sumatera Selatan dengan menggandeng PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
"Jadi saya selalu bilang negara dari langit pun yang mau turun investasi di Indonesia selama sesuai aturan di negara Republik Indonesia kita akan memperlakukan sama dengan negara-negara lain," katanya.
