Kumparan Logo

Smartphone hingga Barang Plastik Bikin Impor RI Naik 17,82 Persen di Juli 2024

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Smartphone. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Smartphone. Foto: Shutterstock

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja impor Indonesia melesat 17,82 persen secara bulanan (month to month/mtm) atau mencapai USD 21,74 miliar di Juli 2024.

Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, Indonesia banyak mengimpor mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) dan peralatan elektrik (HS 85). Khususnya untuk produk ponsel pintar alias smartphone, sebanyak 170 kg atau senilai USD 13.973 di Juli 2024, tumbuh 18,39 persen (mtm).

“Smartphone ini masuk dalam kode HS 85171300. Ini yang mengalami kenaikan impor,” kata Amalia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Kamis (15/8).

Selain itu, plastik dan barang dari plastik juga menjadi penyebab naiknya impor RI. Impor plastik dan barang plastik sebanyak 610 kg atau senilai USD 1.647 di Juli 2024, tumbuh 19,35 persen (mtm).

instagram embed

Secara tahunan (year on year/yoy), kinerja impor Juli juga tercatat naik sebesar 11,07 persen. Amalia merinci, nilai impor migas selama Juli 2024 tercatat USD 3,56 miliar naik 8,78 persen dibanding Juni 2024 sebesar USD 3,27 miliar. Kemudian untuk impor non migas pada Juli 2024 senilai USD 18,18 miliar naik 19,76 persen dibandingkan Juni 2024 yang tercatat USD 15,18 miliar.

Secara tahunan, impor migas naik dari USD 3,13 miliar pada Juli 2023 menjadi USD 3,56 miliar pada Juli 2024. Sementara impor non migas secara yoy naik dari USD 16,44 miliar pada Juli 2023 menjadi USD 18,18 miliar pada Juli 2024.

Adapun secara kumulatif, total nilai impor Indonesia periode Januari-Juli 2024 mengalami kenaikan sebesar 2,40 persen secara tahunan. Pada Januari-Juli 2024 impor tercatat sebesar USD 131,38 miliar, sementara pada Januari-Juli 2023 nilai impor tercatat USD 128,30 miliar.

"Total nilai impor sepanjang Januari hingga Juli 2024 mengalami kenaikan sebesar 2,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Andil utama penurunan nilai impor tersebut disumbang oleh kelompok bahan baku atau penolong sebesar minus 1,90 persen," kata Amalia.