Smelter Freeport di Gresik Bakal Serap 2.000 Tenaga Kerja
ยทwaktu baca 2 menit

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, mengungkapkan fasilitas pengolahan mineral atau smelter tembaga kedua perusahaan akan menyerap total 2.000 tenaga kerja saat beroperasi penuh.
Smelter tembaga yang berada di Java Integrated Industrial Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, itu akhirnya resmi beroperasi pada hari ini, Senin (23/9). Smelter dirancang dengan kapasitas pemurnian 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Di hadapan Presiden Jokowi, Tony menjelaskan smelter tersebut merupakan pelaksanaan dan pemenuhan komitmen PTFI terhadap Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) tahun 2018.
"Selama beroperasi nantinya saat beroperasi penuh, Pak Presiden, ini akan mempekerjakan kira-kira 2.000 orang," ungkapnya saat peresmian produksi smelter PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur, Senin (23/9).
Tony memaparkan total kebutuhan tenaga kerja di smelter tersebut yakni terdiri dari 1.200 karyawan kontraktor dan 800 karyawan langsung PTFI.
"Selama masa konstruksi itu telah mempekerjakan tenaga konstruksi yang kumulatif jumlahnya mencapai 40.000 tenaga kerja," lanjut dia.
Perusahaan, kata dia, melakukan pemancangan tiang pertama di lokasi smelter pada Oktober 2021, sehingga proyek tersebut membutuhkan total 3 tahun 4 bulan untuk akhirnya selesai konstruksi pada akhir Juni 2024 lalu. Total investasinya mencapai Rp 56 triliun.
Smelter kedua PTFI sekaligus menjadi smelter tembaga single line terbesar di dunia. Hal ini, menurut Tony, menjadikan PTFI sebagai perusahaan tambang tembaga hulu-hilir terbesar di dunia.
Sebab, pasokan tembaga yang dimurnikan di smelter tersebut berasal dari konsesi tambang milik PTFI di Timika, Papua, yang merupakan pertambangan bawah tanah terbesar di dunia.
Tony menyebutkan, smelter pertama milik PTFI yakni PT Smelting yang juga berada di Gresik baru saja bertambah kapasitasnya akhir tahun lalu. Kedua smelter tersebut akan memurnikan total 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun dengan produksi sekitar 1 juta ton katoda tembaga, 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun.
"Ini adalah bagian dari program hilirisasi yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, dan juga untuk men-supply kebutuhan akan tembaga, terutama untuk ekosistem electric vehicle (EV), dan juga untuk kebutuhan transisi energi," tuturnya.
Tony melanjutkan, katoda tembaga yang dihasilkan kedua smelter perusahaan dapat memenuhi kebutuhan untuk pembangunan pembangkit tenaga listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT).
"Kalau untuk PLT Surya itu sekitar 200 gigawatt, kalau untuk PLT Bayu itu bisa untuk 600 gigawatt, kalau untuk PLT hydro atau air itu sekitar 800 gigawatt setiap tahunnya," kata dia.
